Tulisan Galau

Saya sangat galau dengan kehidupan saya, karena fase hidup yang flat dari bangun tidur hingga tidur lagi. Saya iri dengan teman-teman saya yang mungkin sudah naik level dari fase hidup dia sebelumnya. Yakni dari mahasiswa menjadi seorang pegawai kantoran, dari membujang menjadi seorang suami maupun istri. Atau mungkin dari yang awalnya menetap di tanah rantau satu hingga dia pindah mencari kehidupan baru.

Sementara saya, tetap menjalani kehidupan yang sama dengan teman-teman saya lakukan ketika saya masih kuliah. Saya masih berstatus mahasiswa,belum bekerja, masih melajang, dan juga masih tetap di tempat saya berkuliah. Saya sempat marah mengutuk takdir, kenapa saya tidak diberikan kehidupan yang seperti teman-teman alami. Penghuni kosanpun sudah berganti generasi, hanya tinggal saya sebagai generasi terakhir yang menempati kosan tersebut. saya marah kenapa saya berada dalam fase hidup yang seperti ini saja. Ingin melawan tapi apa daya, saya seperti terkena pukulan yang bertubi-tubi, saya tidak mati, saya tidak ambruk tapi saya tidak bisa membalas.

Masa-masa sulit ini saya lalui dengan berat, saya frustasi dengan apa yang saya alami saat ini, sungguh malu di umur 20 tahun lebih saya masih bergantung pada orang tua, masih belum naik “level” seperti yang teman-teman saya lakukan. Saya masih hidup dalam fase flat. Tidak ada yang baru yang saya lakukan semua sama. Tidak banyak yang bisa saya lakukan.

Namun dibalik itu semua, saya disadarkan oleh Allah. Dibalik ini semua, yakni hidup flat yang saya jalani saya menyadari banyak hal yang mungkin tidak bisa saya lakukan kalau hidup saya tidak “gitu-gitu” saja. Kalau fase hidup yang saya “iri” dengan orang lain lakukan, mungkin jalan hidup kedepannya saya akan lebih buruk. Ini adalah rencana Allah melalui usaha saya, pilihan saya, untuk menyiapkan saya ke kehidupan selanjutnya.

Bukan ingin bermaksud riya, tapi dibalik kehidupan yang mungkin “gini-gini aja”, Allah mudahkan saya untuk shalat secara berjamaah di masjid, walau shalat shubuh sering telat ikut jamaah sehingga saya shalat sendiri, mungkin ada dosa yang menyulitkan saya untuk bangun ketika adzan shubuh berkumandang. Mungkin Cuma shalat berjamaah yang mungkin saya dimudahkan, walaupun itu saya sering lalai karena shalatnya ikut jamaah baru, bukan yang utama setelah iqamah. Tapi yang pasti, ini patut saya syukuri, mungkinkah ketika fase hidup saya yang flat berubah menjadi dinamis, saya dapat melakukan shalat berjamaah lagi? Saya tidak tau,. Mungkin ini rencana Allah untuk membuat saya dekat, bagaimanapun kondisi saya. Semoga saja saya istiqamah. Dan tentu banyak lagi nikmat Allah yang tidak bisa saya hitung karena keluasan nikmatNYA, semoga bisa menjadi Hamba yang bersyukur… hohoho Aamiin

Salam 😀

Advertisements

2 thoughts on “Tulisan Galau

  1. Hidup yang gitu-gitu aja juga anugrah kok. Kadang orang yang fase hidupnya naik turun penuh gejolak iri dengan dengan orang yang punya kehidupan lebih tenang. Semua hanya tentang rasa Syukur. 🙂

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s