[F] Eksekusi

Pusat kota dipenuhi manusia. Para penguni keluar berjubel dengan yang lain untuk menyaksikan sebuah peristiwa. Sebuah peristiwa yang sudah menjadi hal biasa. Tapi pemerintah setempat telah mengeluarkan aturan untuk menghadiri peristiwa ini. Ya, hari ini adalah eksekusi mati. Lagi. Seseorang terpidana yang mendapatkan hukuman gantung. Sebuah momen yang sudah sering terjadi. Walaupun penduduk sudah bosan dengan hal tersebut.

Kali ini lelaki malang yang mendapatkan hukuman tersebut adalah seorang aktivis dari pemukiman kumuh di pinggiran kota. Dia adalah seorang yang menyuarakan,menggerakkan, dan oleh pemerintah setempat disebut provokasi terhadap penduduk untuk mengganggu keamanan. Walaupun aspirasinya hanyalah selebaran brosur yang ditempel pada tiang listrik bersanding dengan iklan pembersih kamar mandi. Yang kadang hanya menjadi angin lalu bagi penduduk yang berlalu-lalang. Ya, pemerintah menganggapnya berbeda. Tindakan perlawanan terhadap tirani mereka tidak dapat dimaafkan.

Teror. Itu yang pemerintah berikan. Rasa aman dapat diabaikan, di sebuah tempat para maling menjadi penguasa, rasa takut dapat menggantikan. Tapi, tidak bagi masyarakat bawah yang langsung menjadi korban “pencurian” penguasa. “Boleh saja kalian mencuri apa saja dari kami, tapi setidaknya kami beri bagian dari apa yang kalian ambil” begitu suara mereka yang terpampang pada poster yang tertempel. Sesuatu yang pemerintah sebut kebijakan politik nampaknya timpang. Berat sebelah. Mereka yang paham politik dengan mudahnya merenggut milik lawan atau kawannya, di lain sisi pemahaman politik menyebabkan tidak sedikit yang terjeblos ke dinginnya lantai penjara.

Eksekusi mati juga salah satu efek pemahaman politik yang digunakan melawan pemerintah.

“Budi Jangkrik alias Nur Sabudi, berdasar putusan pengadilan tinggi negara anda terbukti melanggar hukum yang tertera pada undang-undang hukum tindak pidana, dan hukuman yang dijatuhkan hakim adalah hukuman gantung,” teriak salah satu petugas penjara membacakan selebaran.

Petugas itu menggulung apa yang tadi dibacakan, dia menunjuk algojo memberi isyarat dengan anggukan kepala bahwa prosesi akan segera dilaksanakan.

Algojo melepas borgol pria malang dengan wajah tebungkus kain hitam. Budi jangkrik terkulai pasrah dengan segala perlakuan algojo berbadan tegap. Tidak sulit untuk algojo memasukkan tali tambang yang telah tersimpul ke leher sang terpidana mati.

Sudah siap. Algojo tinggal menarik tuas. Tangannya suudah memegang dan menggerakkannya ke depan. Hanya tinggal menunggu komando.

“Prosesi hukuman mati Budi Jangkrik alias Nur Sabudi yang keempat dari lima kali hukuman mati segera dimulai. Algojo bersedia, siap dalam hitungan satu,dua,tiga….” Petugas itu terdiam sejenakm menelan ludah sambil membenarka kerah bajunya dan melanjutkan intruksinya, “laksanakan.

Tuas tergeser, beberapa warga menutup ngeri. Papan kayu penopang tubuh Budi Jangkrik terbuka dan tali tambang yang terlilit mencekik leher terpidana mati yang sudah menjadi mayat. Ini adalah kematian yang keempat kali yang harus diterimanya. Dari eksekusi kursi listrik, sampai eksekusi gantung seperti hari ini sudah dilaluinya. Bukan hal aneh yang diterima oleh terpidana yang dianggap membelot ini.

Sebuah tontonan membosankan yang harus penduduk lihat, hanya karena pemerintah ingin menebar teror dan ketakutan. Agar mereka tidak digulingkan.

Kerumunan orangpun meninggalkan tanah lapang, meninggalkan mayat Budi yang sudah mati. Lagi. Kembali ke rumah masing-masih dengan pikiran yang biasa saja dan tidak sedikit dari mereka yang merasa jijik dan bergidik dengan kejamnya pemerintahnya sendiri.

“Empat kali dibunuh, apa tidak cukup? Apakah ketika dihukum mati nyawa mereka akan kembali lagi. Dan setelah kali kelima nyawa mereka akan benar benar pergi?” pria berambut cepak berkata sambil berjalan santai menuju rumahnya.

“Husssh, jaga bicaramu, jangan sampai terdengar kamu tahu sendiri apa akibatnya,kan?” Dengan gusar temannya menyergah dengan isyarat tangan perkataan pria berambut cepak tadi.

“Aku tidak takut kalau besok yang akan menjadi giliranku, pemerintah kita mungkin bisa menghilangkan ratusan nyawa warganya, bahkan puluhan kali untuk masing-masing kepalanya. Tapi pemikiran mereka, tidak akan pernah mati. Bahkan lebih terang, sehingga menyilaukan. Pemerintah kita yang menebarkan teror inipun tidak bisa meredupkannya.” Pria itu menimpali sambil tetap berlalu pergi.

Sementara temannya, mematung, meresapi perkataan yang baru saja dia dengarkan. Perkataan seorang anak dari terpidana mati yang tergantung dan baru saja menjadi tontonan banyak orang. Seorang anak yang mewarisi pemikiran bapaknya.

 

END?

Advertisements

One thought on “[F] Eksekusi

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s