[F] Tidur

Jantungnya berdegup kencang. Mata yang terpejam tiba-tiba terbuka. Perlu dua kali putaran jarum detik pada arloji di samping tempat tidurnya untuk Juan mengetahui dia ada dimana. Pria dengan rambut acak-acakan itu menoleh ke kanan ke kiri. Ternyata ini masih kamarku. Namun dia tidak bisa kembali melanjutkan tidurnya. padahal belum sempat dia merasakan nyenyak dari tidurnya. Malam yang larut adalah harapannya untuk mendapatkan tidur pulas karena tubuhnya akan mengisyaratkan kelelahan untuk mengantarnya ke alam tidur.

Buku-buku dan artikel menyatakan itu adalah gejala insomia. Akibat dari sebuah gejala depresi yang menyebabkan Juan ingin sekali mengharapkan tidur yang nyenyak. Beberapa minggu dia mengalami hal tersebut. Beranjak ke kasur dengan pikiran yang mengganggu hingga lama untuk terlelap dan bangun dengan keadaan panik dan perasaan cemas. Tapi kenyataannya,kini Juan masih bingung bagaimana dia melanjutkan kembali apa yang sangat dia inginkan : tidur nyenyak. Perlahan dia mengangkat badan agar dadanya tidak terasa sesak. Lampu kamarnya samar-samar dengan bayang-bayang akibat sinar lampu luar yang masuk melalui ventilasi di atas pintunya. Diambilnya gelas yang memang dia sediakan sebelum tidur di sampingnya. Airnya sudah tinggal setengah. Malas untuk memenuhinya, dia meneguk cepat sisa airnya. Juan kembali menghela nafas. Juan memejamkan matanya rapat-rapat. Kerutan matanya akan nampak terlihat jika lampu kamarnya dinyalakan.

“Arghhhhhhh diaaam woeeeeey. Berisiiik!!!!” masih dengan mata terpejam Juan memegangi pelipis kanannya dengan bagian bawah telapak tangannya.

Tidak ada yang bersuara, dia tinggal sendiri di rumahnya. Di dalam kamarnya yang berantakan. Memang ada deru suara jangkrik dan gemericik air. Tapi itu bukan dalam kategori berisik.

“ayooolaah!! Kalau bertengkar besok saja, aku mau tidur iniii!!!!!” kembali Juan mengulangi teriakannya. Namun kembali lagi, tidak ada suara yang menandakan adanya pertengakaran.

“Apa itu kamu Amira!!!??” Juan menoleh ke jendela, tidak ada sosok wanita yang dipanggilnya.

Juan akhirnya mencoba melanjutkan tidurnya, tubuhnya berguling ke kanan dan ke kiri. Mencoba mengabaikan suara yang terdengar dari pikirannya. Kaki Juan menendang-nendang. Membenarkan posisinya untuk segera bisa terlarut dengan sunyinya malam. Juan berusaha keras. Pikirannya masih mengganggu untuk membuatnya nyenyak. Pikiran akan kegagalan hari ini, bayangan orang yang membuatnya kesal tempo hari. Perlakuan rekan-rekannya di kampus kembali disajikan oleh pikirannya dengan jelas dan membuatnya merasa pusing. Kenangannya dengan sosok wanita bernama Amira. Sisi lain pikirannya membayangkan pisau, tambang yang ada di luar,dan tingginya atap rumahnya yang seakan membisikkan kita akhiri saja semua ini. Namun setiap kali kematian terlintas dipikirannya, ada pihak lain yang mengatakan mati tidak akan membuat masalahmu selesai. Pergolakan pikirannya dan tubuhnya membuat Juan harus berjuang keras setengah mati.

***

Cuplikan pendapat dr. Aninta Ningsih yang menangani kondisi juan :

“………….Berat badannya menurun karena pola makan yang tidak teratur. Asupannya tidak sehat. Tekanan dari aktivitasnya menjadi pemicu gangguan yang sekarang harus Juan alami. Namun tak banyak yang tahu mengenai kondisi yang Juan hadapi menjelang tidurnya. Teman-temannya melihat Juan sebagai orang biasa dan menjalani rutinitasnya seperti orang normal. Pribadinya sedikit tertutup namun ketika orang mengajaknya untuk berbincang dia bisa menerimanya. Tapi ada sisi lain dari hidupnya yang biasa orang menyebutnya kesepian. Namun kondisi psikisnya tidak sampai membuatnya berbahaya bagi orang lain. Seharusnya dia bisa ditangani secepat mungkin, walau kondisinya sudah termasuk ekstrim tapi Juan masih bisa ditangani…….

***

Harian Liputan 789 edisi XVI minggu keempat bulan April.

“Kebarakan melanda rumah di jalan Batu Emas No. 56. Jember. Si jago merah melalap hangus rumah milik seorang mahasiswa. Diduga api berasal dari tumpukan sampah yang dibakar dan lupa dimatikan. Beruntung kebakaran tidak merembet ke rumah lain karena pemadam kebakaran segera tiba di lokasi setelah mendengar laporan warga.

Polisi yang datang juga memeriksa tempat kejadian perkara dan mengamankan pemilik rumah berinisial J. Karena disinyalir J adalah pelaku pembakaran rumah tersebut. Polisi memeriksa adanya bensin yang sengaja disiramkan ke dalam rumah dan terciprat di tembok. Sekarang J masih di kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut….”

***

Matanya terbuka perlahan. Tubuhnya sekarang rileks karena pulasnya tidur. Diperiksanya bekas luka bakar di sekujur tangan dan kakinya yang sudah mulai mengering. Wajahnya tersenyum simpul. Tempat ini lebih baik dari rumahku yang kubakar. Digerak-gerakan tubuhnya untuk melemaskan sendi dan ototnya. Segera dia bangkit dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Perasaan lega yang dia dambakan selama ini telah Juan rasakan. Juan keluar dari kamar mandi dengan muka basah akibat cuci muka. Dia tidak kuat dengan dinginnya air pagi ini sehingga dia menunda untuk mandi. Juan keluar dari kamarnya menuju taman untuk menikmati pagi ini. Walaupun langit masih berwarna abu-abu dan sedikit oranye. Namun perasaan dan pikirannya tidak sekelabu pagi ini.

Sungguh aku ingin setiap pagi momen ini terus terulang lagi

***

Penggalan wawancara dr. Aninta Ningsih mengenai perkembangan Juan pada majalah kesehatan rubrik psikologi:

“…….. sepertinya Juan cocok dengan tempat ini. Walaupun tenaga medis kami tidak sehebat dari rumah sakit lain. Tapi kemauan dari diri Juan yang mengalahkan obat semujarab apapun. Mungkin awalnya kami harus mengisolasi dia karena tindakannya yang agresif. Tapi dengan dukungan dari orang-orang sekitarnya dan juga orang yang dia cintai akhirnya dia bisa melewati masa-masa sulitnya. Sekarang kami tidak harus memisahkan dia dengan orang lain di rumah sakit ini. Kondisinya sudah sembuh tapi dia tidak mau kembali. Karena baginya ini adalah rumahnya…………….

***

Juan mengitari taman. Langkahnya terhenti dan melihat wanita berpakaian dinas kedokteran memeriksa tumpukan berkas di sampingnya. Juan mendekati wanita itu.

“Hai pagi-pagi sudah sibuk aja, nih?” Juan membuka percakapan.

“Ah kamu, bikin kaget aja.” Wanita tersebut mendongak dan tersenyum melihat kedatangan Juan.

“boleh duduk, gak?” Juan meminta, namun tanpa menunggu persetujuan wanita itu dia lantas duduk di sampingnya. “kerjaannya banyak banget ya. Jangan sampai kelelahan ya, Amira.”

“Tenang saja, aku kan dokter. Masak harus sakit gimana terus kalau mau nanganin pasien” Wanita yang dipanggil Amira tidak melihat wajah juan, matanya masih terus berkutat pada berkas di pangkuannya dan sesekali dia menyibakkan rambut ke telinganya.

Sementara Juan dengan santai menemani pagi dengan sosok wanita yang membuatnya semakin damai. Wanita yang dipanggil Amira. Walaupun papan nama di jas kirinya bernama dr. Aninta Ningsih.

END?

Wah sudah lama gak nulis cerpen nih, moga suka walau ceritanya sedikit random :D.

 

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “[F] Tidur

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s