[F]Bilik Warnet No. 12

Bunyi teriakan dan makian selalu saja terlontar dari mereka yang bermain game online di warnet tempat aku bertugas. Bau asap rokok juga harus kuhirup walaupun aku bukan perokok. Jam malam hingga pagi adalah giliranku, dan aku juga harus terbiasa dengan mereka yang mengeluarkan umpatan penghuni kebun binatang. Sementara aku juga harus menahan kantuk,sambil memeriksa laporan keuangan dan jumlah nominal di kotak uang. Harus cocok, agar gajiku tidak terpotong. Ya begitulah selalu saja ada yang curang dengan mengakali billing. Supaya bermain lama, tapi bayarnya murah. Seenaknya sendiri kelakuan mereka. Baru saja menghack billing hasil tutorial cara-hack-billing dari google sudah sok. Kalau perlu hack saja rekening orang yang ada di bank.

Setelah menghitung jumlahnya sudah cocok, aku kembali memonitor apa saja yang dilakukan setiap pelanggan di warnetku. Aku yang punya kuasa atas mereka. Kalau mereka membukan situs yang dapat membuat koneksi lemot, tombol kill tinggal kutekan. Sekaligus pesan “Jangan buka bokep cok!!” langsung mendarat di komputer mereka. Namun kali ini pelangganku rata-rata gamer, jadi nampaknya tidak ada situs aneh yang mereka buka. Hanya situs cara bermain curang dari game-game yang mereka mainkan. Sisanya bermain sosial media, streaming youtube dan bernyanyi sambil menggunakan headphone. Setidaknya semua bilik hampir penuh. Suasana di luar nampak lengang, maklum jam malam jalanan sudah sepi, hanya kadang mobil travel berkecepatan penuh melesat karena memanfaatkan kondisi jalan yang sudah larut.

“Mas ada yang kosong, gak?” Seorang pria berperawakan sedang berambut ikal menghentikan aktivitas pikiranku di depan layar operator.

“Oh…” aku menyahut dengan nada datar, “ada mas tinggal dua, nomer 08 sama nomer 12. Tapi yang nomer 08 keyboardnya rada gak enak, tadi sih yang main ngawur.” Kataku menawarkan kepadanya sambil melihat bilik yang tak terpakai dari server.

“Hm aku pake nomer 12 aja deh,mas. Sebentar kok cek email aja.” Dia menjawab dengan berjalan ke bilik yang kumaksud.

Lalu pria berambut ikal itu login dengan nama “L” nampaknya dia memang terburu-buru. Dari username dan paketan yang dia pilih sudah terlihat jelas. Benar saja, baru saja kubuka folder dan hendak memilih lagu yang akan kuputar pria dengan username “L” sudah selesai.

“Berapa mas?”

“Sek.. tunggu bentar” kututup folder daftar lagu dan melihat billing. “Seribu mas..”

Dia menyodorkan pecahan uang receh. Untung bukan uang besar, malas untuk memberi kembalian. Seperti orang yang sekedar nukar uang, tapi sungkan untuk bilang.

“Makasih mas…” kumasukkan uang tersebut ke dalam kotak, diiringi anggukan kepala dia keluar dari warnetku.

Lantas kubuka folder lagu dan memilih untuk memutar lagu dangdut dengan remix. Kuputar volume agar suara semakin naik.

“Naaah gini laah, biar gak sepii… lebih keras mas musiknya,” sahut seorang pelanggan dari bilik entah nomer berapa.

Namun tak kupedulikan omongannya, tapi tetap kuturuti keinginannya, dan kuputar volume ke posisi maksimal.

***

Sabtu malam, biasanya para fakir asmara mengisi warnet. Padahal di dunia maya para jomlo kena bully. Selalu saja, jangan-jangan yang membuly juga fakir asmara. Hari ini aku berjaga, suasana nampak ramai. Tidak hanya bilik yang hampir penuh, tapi jalanan juga menjadi tempat para remaja mondar-mandir. Entah apa tujuan mereka, menghabiskan bensin mungkin. Kesibukanku seperti biasa, memandang monitor server. Koneksi lumayan stabil, dan seperti biasa para gamer juga berisik. Agak bosan sebenarnya,tapi mau bagaimana lagi, sudah pekerjaan.

Terdengar bunyi “kriing” dari monitor billingku, pertanda ada pelanggan memutuskan koneksi. Keperiksa, rupanya bilik nomer lima di deret sebelah kananku selesai.

“mas.. jangan di-satdon dulu yaa…” kata klien dari bilik nomer lima. Melafalkan shutdown dengan semaunya,

“iyaa…. sudah tiga kali ini nambahnya ya… jangan ngutang ya..” sahutku sambil membuka kunci billing agar bisa digunakan lagi.

“oke mas…,” kata dia, sambil login kembali.

Aku bangkit dari kursi untuk meregangkan persendianku, lumayan capek juga. Soalnya aku harus begadang lagi hari ini. Kulangkahkan kakiku keluar sekedar melihat-lihat sesaknya jalanan di akhir pekan. Selang beberapa saat ketika aku menghitung dan menjumlah asal-asalan kendaraan yang lewat ada seseorang memanggilku.

“Mas.. ada yang kosong, nggak?” seseorang yang tidak asing bertanya.

Aku masuk kedalam, benar saja pria ikal dengan username “L” itu lagi, ”sebentar ya, mas. Soalnya malam minggu penuh semua ini.” Jawabku sambil berjalan melewati dia dan segera memeriksa bilik yang kosong.

“Kalau gak ada, yang tinggal sedikit waktunya deh mas..” Pria Ikal itu meminta.

Bola mataku naik turun, semua bilik sudah berisi nama pelanggan. Rata-rata selalu sama. Eh rupanya ada, “Oh ini mas, nomer 12 kosong lagi tuh. Gak apa-apa, kan. Udah jodoh mungkin sama bilik itu” candaku.

“waah iya deh mas, sudah 4 kali kesini, dapatnya bilik itu.” Pria ikal itu lalu berjalan ke bilik langgananya.

Kali ini kulihat dia bermain lebih lama. Tidak seperti pertama kali kesini. Karena paketan yang dipilih akan mati setelah 2 jam pemakaian. Walaupun tidak seperti paket malam yang biasanya dipilih pelanggan tetapku. Salah satu rutinitasku adalah mengawasi kegiatan pelangganku. Mungkin sifat ingin tahuku terlalu besar. Termasuk pria dengan username dengan satu abjad yang baru saja datang. Tapi untunglah billing yang kupakai tidak sampai menjangkau privasi mereka. Setiap kali kesini, pria itu selalu membuka email, beberapa berkas dokumen dan tidak membuka jejaring sosial seperti pelanggan lain. Biasanya para gamer di warnet ini, selalu membuka facebook dan kemudian ditinggal begitu saja. Soalnya jarang gamer berinteraksi melalui facebook. Game online biasanya sudah menyediakan chat. Tapi anehnya mereka masih saja berteriak-teriak.

***

Minggu malam sebuah hari aku harus mendapat keuntungan yang sedikit. Karena malam senin pelanggan paling sedikit yang datang ke warnet. Bilik banyak yang kosong. Maklum pelangganku rata-rata pelajar dan biasanya hari senin mereka masuk lebih pagi. Jadi tidak mungkin mereka menghabiskan semalaman untuk online. Sepertinya pria ikal dengan username “L” juga tidak datang. Mungkin dia pekerja kantoran, atau mungkin urusannya yang mengharuskan memakai warnet juga telah selesai.

“mas.. sepi.. musiknya laah mainkan!!!” Teriak pelanggan setiaku, sepertinya dia mulai suntuk.

“sek. Milih lagu nih,.. apa? Seperti biasanya,ya” jawabku, sambil membuka media pemutar musik.

“Oke dah mas… bosen ini. Kalah tok dari tadi, sampai habis saldoku” sahutnya, sepertinya dia tidak berbakat dengan judi.

Segera kuputar musik dangdut bernuansa disko. Volume Sound system kuputar kearah kanan,suara menanjak naik. Kaca sedikit bergetar karena dentuman bass yang dimainkan.

Setelah beberapa lagu berganti dengan acak, datang wanita yang mungkin sudah mempunyai beberapa anak menghampiri warnetku. Sepertinya dia ingin menjemput anaknya agar tidak larut pulang ke rumah.

“Mas, keliatan anak saya Nando?” Suaranya agak panik

“Nando yang mana,buk?” kujawab sambil mengecilkan volume dari komputerku, karena harus menunduk untuk menjangkau tombol volume sound system. “Do.. Nandooo…!!! dicari ibuknya….” Teriakku.

“Bukan mas, dia hampir seminggu nggak pulang ke rumah. Sudah tak cari kemana-mana, tetep gak ketemu.” Sahut wanita itu semakin panik. “ini mas anaknya” dia menunjukkan foto dari Hp yang baru saja dia ambil dari bajunya.

“Hah!!?” aku kaget melihat foto yang ditunjukkan padaku, pria ikal dengan rambut ikal yang selalu login dengan abjad ke-12 itu.

“Kenapa mas, pernah keliatan?” ibu tersebut sedikit lega mendengarnya.

“Dia sering kesini beberapa kali, buk. Tapi hari ini saya gak keliatan dia” jawabku dan pelanggan di depanku setengah mengintip pembicaraan kami

“Masak iya, mas? Barusan saya tanya orang di jalan, dia masuk kesini” Ibu itu nampak heran dengan jawabanku.

“Kalau gak percaya coba cek sendiri buk, biasanya dia sering main di bilik nomer 12 itu” aku menunjuk bilik yang dimaksud.

“Bener mas,saya nggak bohong!!” Seru Ibu Nando dan segera menghampiri bilik nomer 12

Aku tak menjawabnya, aku hanya berdiri dan mengintip ketika wanita dengan baju bermotif bulat-bulat berjalan.

“Mas….!!! bener mas dia ada disini!!” Suaranya lantang, namun ada kecemasan dibaliknya, “Do….” Suaranya kemudian pelan.

Aku menghampirinya, dan para pelanggan lain ikut melihat apa yang terjadi, ada yang cuma sekedar melepas headset dan mengintip. Benar saja pria yang mempunyai nama Nando itu duduk disana, namun pandangannya ke arah monitor. Kosong. Tapi itu tidak penting,yang terpenting bagaimana caranya dia berada disana?

“Do….” kata ibunya menepuk pipinya pelan, “Kamu kok bengong, heii.. Nak jangan bikin ibuk panik gini dong!!” sembari ibunya menggoyang-goyangkan paha anaknya.

Aku berusaha tenang, “Hmm kok bisa dia ada disitu ya,buk?”

“Iya mas, tadi gak ada orang lewat juga.” Seorang pelangganku juga ikut menimpali dari belakang.

“Hah? Kalian ngomong apa,sih? Jelas-jelas dia ada disini..” Kata wanita itu menatapku keheranan. “Nandoo, sadar nak… Nando…” kembali dia berusaha menyadarkan anaknya.

Tiba-tiba pandangan Nando berubah, tadinya kosong sekarang dia merasa melihat sesuatu. Bukan melihat sepertinya, tapi mengingat. Kepalanya melihat sekeliling.

“Nak… naak…” Ibunya memanggil.

“Buk…” Dia menjawab, kemudian melihat sekitar, “Aku kok bisa duduk disini buk? Padahal tadi mau perjalanan pulang.” Katanya pelan.

“Loh, kamu itu sudah beberapa hari gak pulang.” Kata ibunya yang sekarang duduk disampingnya.

“Kok bisa? Aku memang pamit mau ke warnet, terus main sebentar pulang deh.”

“Iya mas, tapi sekitar tiga atau empat harian kemarin dah. Terus mas datang lagi besoknya” kataku menimpali pembicaraan mereka berdua.

“Eh iya ta, mas? Bukane ini masih hari Selasa,kan? Saya baru pertama juga kesini,kan?” tanyanya dengan penuh keheranan.

“Duuh, kenapa kamu,nak? Ini sudah hari minggu. Kamu yang pamit keluar, udah gitu gak balik lagi” Ibunya semakin panik. “Sudah nak, ayo pulang sekarang!!”

“Mending bawa ke orang pinter buk.” Kata pelangganku yang tadi kebingunan juga.

“Hei mas, jangan sembarang kalau ngomong. Anak saya gak kenapa-napa. Lagian saya juga gak percaya dengan yang begituan.” Sahut Ibu Nando. Raut wajahnya berubah.

“Sudah buk, tenang. Mending anak ibuk dibawa pulang aja, istirahat. Kayaknya capek banget.” Aku berusaha meredam suasana.

 “iya wes, makasih ya mas.” Wanita itu menuntun anaknya berjalan keluar dari warnetku.

“Mas, kok bisa ya? Padahal selama saya main gak ada yang lewat beneran. Termasuk orang itu” Kata pelangganku setengah berbisik.

“Entalah, saya juga gak tau..” kataku pelan.

***

Esoknya, semua bilik hampir penuh. Beberapa orang sudah pulang padahal malam tidak begitu larut. Sembari ada pelanggan yang datang, aku membersihkan bilik-bilik yang sudah ditinggalkan. Asbak penuh dengan puntung rokok, keyboard dengan posisi berantakan dan kursi yang bergeser sudah menjadi pemandangan biasa bagiku. Setelah bilik kotor selesai dibersihkan, aku mengecek bilik yang kosong. Melihat apakah ada sesuatu yang tertinggal. Yups semuanya selesai. Tapi tunggu, bilik nomer 12 masih belum aku apa-apakan.

Segera kudatangi bilik yang tiba-tiba muncul seseorang secara misterius. Kucek komputernya. Kondisinya mati. Hanya power supply menyeimbang tegangan yang hidup. Memang sengaja kunyalakan.

Heii.. terimakasih yaa…” Suara bisikan melewati telingaku.

Aku kaget, sepertinya dari sebelahku. Tapi disebelahku kan tembok. Bilik nomer 11 juga kosong. Tidak mungkin suara bisikan pelanggan nomer 10 sampai kesini.

Orang yang kemarin kesini…. Aku suka dengannya.. Jiwanya pas buatku. Kamu memang benar-benar pengikutk terbaikku

Suaranya kembali terdengar seperti sekelibat angin dan seperti meniup telingaku ketika suaranya terlontar.

Kirim seseorang kembali kesini, untuk kuambil jiwanya. Untuk menandakan kesetiaan dan pengabdianmu.

Aku mengangguk perlahan, dan sedikit tersenyum simpul. Sempurna, rencanaku berhasil.

“Maaas?? Masss? Ada yang kosong nggak?” Suara teriakan dari luar membuyarkan percakapanku.

“Oh iyaa bentar…” segera kuhampiri orang tersebut. Rupanya remaja tanggung.

“Ada yang kosong, nggak mas?” tanyanya lagi.

“Hampir penuh mas, Cuma tinggal bilik nomer 11 sama 12. Tapi yang sebelas, mousenya rusak. Gimana?” kataku menawarkan.

“iya deh, nomer 12 aja ya.” Remaja tanggung itu menerima tawaranku dan langsung melangkahkan kakinya perlahan.

Aku tersenyum dengan tatapan tajam, bilik nomer 11 sebenarnya baik-baik saja, salah sendiri bertanya bilik mana yang kosong. Sekarang, satu orang lagi berhasil kupersembahkan untuk Tuanku.

END?

 Terimakasih sudah mau baca cerpen saya. Maaf kalau ada kekurangan,hohoho. Semoga suka 🙂

Salam :*

Advertisements

7 thoughts on “[F]Bilik Warnet No. 12

      1. serem kok.
        suka karena waktu baca dari tengah sampi akhir bener-bener ngga ketebak ..

        kirain si ‘L’ itu hantunya,
        kirain juga hilang ingatan,
        ternyata ..

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s