[F] Sayap : 1. Negeri Di Ujung Timur

Tubuhnya terikat kuat dengan dibalut kaos seperti pasien rumah sakit jiwa yang sewaktu-waktu bisa mengamuk. Berhari-hari asupan makanan tidak mengisi perutnya. Beruntung makan dan minum bukan hal yang harus dia lakukan setiap harinya. Lapar haus tidak akan bisa membuatnya mati. Ya memang dia tidak akan bisa lapar dan haus. Kepalanya tertunduk lesu dan membuatnya hampir gila. Tempat segelap itu tentu saja membuatnya demikian. Ditambah sesak di badan karena rantai menjuntai dari tubuh hingga pergelangan kakinya.

Seandainya badanku tidak terikat,sudah kukepakkan sayap berlian di punggungku. Rantai di kakiku tidak ada apa-apanya dengan hentakkan tubuhku. Apalagi tembok baja ini, sudah hancur melawan momentum dari kerasnya tubuhku. Seandainya tidak ada sensor yang sensitif membaca gerakan gusarku, tentu saja aku tak harus merasakan sengatan listrik yang mengejutkan syarafku.

‘Kreeeeek’

Pintu terbuka diiringi dengan bayangan orang berbadan tegap mengawal pria tua kecil masuk menemui tahanan malang itu.

“Bagaimana Juan? Masih betah tinggal disini?”

Juan memalingkan muka.

Sungguh pertanyaan bodoh, siapa yang betah tinggal disini. Kenapa kau datang lagi, sih? Keberadaanmu membuatku muak. Ingin rasanya  kubengkokkan hidung besarmu.

“Hihihi… kutahu kamu tidak akan betah tinggal disini. Tapi mau bagaimana lagi? Orang sepertimu tidak boleh kemana-mana. Kabur dari sini pertanda membangkang kepada penguasa. Beruntung kamu bisa kutangkap hidup-hidup. Kebanyakan yang mencoba kabur sudah mati di tempat.”

Peluru pasukanmu tidak akan bisa menghentikanku. Kalau bukan karena produk tesla sialanmu itu.

“Sebenarnya aku tidak mau menahanmu lama-lama disini. Tapi akibat ulahmu, kerugian yang ditimbulkan, dan tentunya kamu yang tidak bisa dibunuh, aku tak ingin kamu membahayakan rakyatku” Pria itu berbicara sambil mengitari tubuh Juan.

Rakyatku kau bilang. Kerugian kau bilang, setiap hari harus tunduk kepadamu, sudah kerugian yang harus kami terima.

Juan mendongakkan kepala sementara pria tua kecil berada di balik punggungnya,”Aku lebih senang tinggal disini, walau usaha kabur sangat tidak mungkin.” Juan melihat pengawal pria tersebut. Sebuah robot besi dengan perlengkapan militer yang lengkap. “Daripada harus mati bosan melihat lucunya negeri ini, akibat apa yang kau biasa katakan?… oh iya kau biasa menyebutnya kebijakan. Pfft”

‘Plakkkk!!’

Sebuah tamparan keras melayang ke pipi juan.

“Oh tentu saja kau tidak akan merasakan apa-apa,” kata Pria Tua Kecil sambil membenarkan posisi sarung tangannya. Sekarang lampu indikator menyala tepat dibalik kuku dan telapak tangannya.

‘Plaaaaaak!!!!!!’

Hantaman keras melayang lagi. Diikuti erangan dari mulut Juan.

“Daya listriknya masih cukup untuk membuat seratus rumah menyala. Kau sudah mengerang seperti itu.” Pria itu lalu menempelkan tangannya ke bahu Juan.

“Arrrrrrggggggggghhhhh!!!!” teriak juan sambil mendongak dengan mata terbalak, kakinya bergetar tidak karuan. Sensor listrik otomatis merespon. Kulitnya yang berbalut berlian muncul seketika ada bahaya menimpa dirinya. Tapi itu tidak akan ada gunanya.

“Jangan coba mengatur bagaimana aku berkuasa. Ini semua kulakukan demi kebaikan negeri ini. Kalian tidak akan kekurangan satupun. Kalian tidak akan dilanda kelaparan. Hidup kalian terjamin.” Pria itu melepaskan tangan listriknya dari bahu Juan.

Nafas Juan terengah-engah. Jantungnya berdetak kencang seakan lama kembali ke posisi normal. Juan membenarkan posisi duduknya dengan perlahan, agar sensornya tidak kembali menyengat tubuhnya. Setidaknya sudah kali ketiga dalam minggu ini, dia harus merasakan kejutan listrik dari pria itu.

“Bapak Abraham, ada telepon. Utusan sudah menunggu di bawah.” Suara wanita mengejutkan mereka.

“Nah Juan, aku pergi dulu ya. Nikmati sisa umurmu selagi bisa yaa…” Abraham pun keluar bersama pengawal robotnya. Tampak Abraham berbicara dengan wanita yang merupakan sekertarisnya. Meninggalkan Juan yang masih meringkuk di tempatnya.

Bebas kelaparan kau bilang? Makhluk seperti kami memang tidak bisa lapar. Tapi kau manfaatkan tenaga kami buat mengenyangkan perutmu dan orang yang kau sebut penguasa di negeri ini. Dasar bedebah!!!.

Negeri ujung timur memang tampak damai dengan pemandangan hijaunya. Sungai jernih mengalir, dapat diminum langsung ataupun dipakai mengairi sawah dan ladang penduduk. Iya negeri damai di bagian atas. Tak banyak yang tahu bagaimana tampak mengerikan di bagian bawah negeri tersebut. Penghuninya bukan bagian dari tiga makhluk hidup seperti buku ipa sekolah dasar ajarkan. Mereka dipaksa mengolah lahan pertanian dan pertambangan. Semula bagian atas dan bagian bawah hidup berdampingan dan mau menerima satu sama lain. Walaupun orang di bagian atas tidak mengetahui sebenarnya rupa dan kemampuan aneh makhluk bagian bawah. Setidaknya orang pemerintahan yang mengetahuinya. Setidaknya hampir beberapa abad mereka hidup bersama. Namun semenjak 20 tahun terakhir, masa pemerintahan Abraham menerapkan aturan baru.

Para tetua tidak berani melawan tirani Abraham. Tidakkah mereka bosan dengan sistem ini. Para pemuda diberi pendidikan kemudian bekerja seperti budak? Apa mereka tidak sadar, bahkan mereka tidak bisa menjadi apa yang mereka inginkan? Laki-laki bekerja siang malam, wanita putus sekolah dipaksa diangkut menuju atas untuk pemuas nafsu mereka. Mengapa mereka tidak mau melawan? Semua hanya demi menjaga keamanan. Keamanan macam apa kalau sudah seperti ini?

Dalam ikatan tahanan itu Juan kembali mengingat masa-masa ketika bersama keluarganya. Orang tuanya termasuk kolot pemikirannya. Masih terekam jelas bagaimana keluarganya menyuruhnya untuk bersabar, mengikuti segala aturan yang sudah berlaku. Orang tua selalu begitu. Sekedar menurut dan takut dengan karma yang belum tentu jelas kebenarannya. Selalu takut, bahwa selamanya orang bagian bawah harus tunduk terhadap orang bagian atas. Melanggarnya berarti akan menimbulkan bencana di kemudian hari.

Juan dalam kesal masih mengingat ketika dia membantah orang tuanya. Tidak mau selamanya patuh, dia ingin menjadi apa yang dia mau, melakukan apa yang menjadi keinginannya. Masih lekat dalam pikirannya kenapa bersabar harus identik dengan menunggu. Tidakkah ada sesuatu yang bisa dilakukan?

Hujan,Putri maaf sudah membawa kalian sejauh ini. Sebenarnya aku ingin melakukan ini sendirian. Gara-gara aku, kalian tidak diketahui nasib dan keberadaannya. Tapi saat seperti ini, aku harap kalian ada disini.

****

Suasana ruangan sedang memanas walaupun AC sudah diatur dengan suhu 16 derajat celcius. Pria dengan jenggot putih panjang menjuntai di depan kemejanya mengerutkan wajah. Dia tidak sepakat dengan hasil pertemuan kali ini.

“Bagaimana Tuan Sasongko dengan kesepakatan kerjasama pembuatan senjata terbaru dengan perusahaan bapak? Saya harap harganya cocok.”Abraham menegaskan kembali hasil rapat kepada Pria Berjenggot Putih itu.

“Harganya sebenarnya sudah cocok, Tuan Abraham. Tapi untuk memproduksi sebanyak itu kami masih kekurangan lahan, pegawai,dan bahan baku. Sebenarnya kami ingin membuka lahan di sebelah pabrik kami. Tapi daerah sekitar kawasan pabrik kami adalah lahan pertanian.” Tuan Sasongko memainkan janggut di dagunya. Kemudian melanjutkan, “kami hanya tak ingin mencemari lingkungan kalau harus membuka lahan”

“Hah? Kalau pegawai nampaknya tidak mungkin kalian kekurangan. Bukannya banyak penduduk di negeri ini yang kalian bisa rekrut untuk bekerja di pabrik kalian? Sedangkan bahan baku, cadangan tambang kita masih banyak,kan?” Abraham bersingut keheranan.

“Wajar kalau dia kekurangan bahan baku, Abraham. Eksploitasi sumber daya manusia dan alam habis-habisan dan  tidak adanya regenerasi, pantas kalau produksi akan terhambat.” Pria botak di sebelah tuan Sasongko angkat bicara.

“Apanya yang habis-habisan? Cadangan alam kita melimpah, setiap hari bayi lahir. Angka harapan hidup juga tinggi, kalian masih bilang kita kekurangan. Berita dari mana itu, bapak Wisnu?? Bapak jangan ngawur!!!”

“Sempatkanlah melihat atau membaca berita, pak. Negara ini sudah banyak berubah.” Tuan Sasongko menimpali Abraham.

‘Tok-Tok-Tok’

Terdengar suara ketukan ketika mereka sedang bersitegang. Sekertaris Abraham masuk. Mendekati Bosnya dan membisikkan sesuatu yang membuat wajah Abraham menjadi geram.

“Baik, sebentar lagi saya kesana” Abraham mengisyaratkan kepada sekertarisnya untuk keluar terlebih dahulu. “Baik tuan-tuan sekalian, saya tidak peduli alasan kalian. Yang penting segera berikan laporan produksi awal bulan depan. Saya tidak mau hasil produksi menurun, kalau perlu angkat lagi orang bagian bawah ke atas. Cari teknisi baru dari sana, manfaatkan sebanyak-banyaknya tenaga dari sana.”

Abraham keluar dari ruangan itu, meninggalkan Sasongko dan Wisnu yang menggeleng-geleng dan berpikir bagaimana produksi bisa mencapai target.

****

“Bagaimana cecunguk itu bisa kabur, padahal penjagaan sudah ketat seperti itu?” Abraham masuk ke dalam ruang monitor, tempat pengawasan Juan.

“Entahlah pak, seketika kamera mengalami gangguan, gambarnya berubah menjadi abu-abu.” Kata petugas sambil melihat rekaman terakhir di tahanan tersebut.

“Kalian kerjanya bagaimana, sih? Bukannya alat ini sudah canggih? Saya tidak mau tahu, bagaimana caranya temukan dia,” Abraham melonggarkan dasinya dan memainkan jari di hidung besarnya. Kesal dan takut menjadi satu di kepalanya.

“Kami sudah melakukan sebagaimana mestinya, pak. Tapi kami tidak tahu bagaimana caranya dia bisa menghilang” Petugas menjawab dengan nada gemetar.

“Pak…. gawat paaaak!!!” Petugas berpakaian sipir tergesah-gesah dari luar monitoring masuk.

“Ini apa lagi??!! Saya tidak mau mendengar berita buruk. Apa kalian sudah menemukannya?” Tukas Abraham.

Petugas berpakaian sipir dengan keringat mengucur lalu berkata, “Maaf pak, sepertinya ini berita buruk. Pintu tahanan jebol, api berkobar dimana-mana. Ada yang aneh dari robot pengawas di sekitar tahanan level 1, pak. Mereka saling menembak satu sama lain!! Seperti hilang kendali. Padahal mereka sudah diprogram untuk patuh pada sistem tahanan. ”

Rupanya, Hujan dan Putri tidak mati…”Abraham bergumam, kemudian dia memberi perintah, “ Saya tidak mau tahu, ini akibat kelalaian kalian. Cepat tangkap Juan, dan dua temannya. Hati-hati mereka bukan manusia biasa. Mereka juga mempunyai kemampuan khusus seperti Juan. Cepaaat!!”

“Si….Siaaap, Pak!! Laksanakan” Petugas Sipir meninggalkan ruangan.

“Dasar bedebah!!!, kalian tidak tahu siapa yang kalian hadapi… kalian tidak akan bisa kemana-mana!!” Abraham dengan tajam menatap layar monitor tapi bayangannya sudah tidak fokus dengan apa yang di depannya.

Bersambung?

Makasih udah baca, semoga bisa istiqomah buat ngelanjutin ya, hohohoho. semoga suka

Salam :*

Advertisements

10 thoughts on “[F] Sayap : 1. Negeri Di Ujung Timur

  1. “Tubuhnya terikat kuat dengan dibalut kaos seperti pasien rumah sakit jiwa yang sewaktu-waktu bisa mengamuk. ”
    penjelasannya terlalu eksplisit. coba saja kalau diganti misal, “sekujur tubuhnya kaku, tangan dan kakinya dipaksa merapat oleh tali-tali yang mengikat disekeliling tubuhnya. Berbalut pakaian seragam rumah sakit jiwa tak membuat keadaan semakin baik, dia bisa kehilangan kendali setiap saat.”
    ehehe. menurutku sih. tinggal pemilihan diksi dan bubuhan majas biar top markotop.

    ‘Kreeeeek’ gak perlu ditulis menurutku ^^V

    Daripada harus mati bosan melihat lucunya negeri ini <= superr

    "Suasana ruangan sedang memanas walaupun AC sudah diatur dengan suhu 16 derajat celcius. " lagi lagi kalimat eksplisit ^^V

    dan lagi akan lebih menarik jika mase bikin pendeskripsian lebih detail apa yang dilakukan si tokoh. misal pas waktu pak abraham sama tuan sasongko ngobrol, mereka ngobrolnya sambil duduk apa sambil berdiri. duduk di sofa apa kursi biasa di depannya ada segelas kopi atau asbak rokok atau gimana? pembaca ngga akan susah membayangkan situasinya. dan aku agak bingung ketika tiba-tiba ada bapak wisnu. harusnya ada deskripsi ada "beberapa orang" diruangan itu. hehe imho

    ‘Tok-Tok-Tok’ lagi-lagi. suara semacam ini harusnya dibuat deskripsi misal: Pembicaraan kami tiba-tiba dihentikan oleh sebuah ketukan berisik yang berasal dari pintu."

    overall. ceritanya menarik. lanjutin lagi maseee 😀

    1. LOL lupakan paragraf pertama. aku kira dia benar-benar di rumah sakit jiwa makanya aku komennya gitu. wkwkwk gak konsen. rupanya dia diandaikan seperti orang gila? seperti itukah? hahaha

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s