Tugas Oh Tugas

Tugas di sekolah, kuliah itu kadang aneh. Murid diberikan tugas itu katanya buat tolak ukur pemahaman. Tapi nyatanya tugas diberikan dan dikerjakan cuma sebagai tambahan nilai. Tugas tidak dikerjakan, jangan harap nilai memuaskan, begitu katanya pfft. Ada yang ditulis tangan sampai mau copot garapnya setelah selesai terus mau dikumpulkan cuma dapat jawaban “oh sudah ya? taruh di meja saya ya”. setelah itu tidak tahu lagi bagaimana nasib kertas tersebut.

Memang kadang tugas tersebut dilihat, iya sebatas dilihat. Terus gak ada kelanjutan kisahnya lagi -_-. Momen yang menyebalkan adalah pemberian tugas secara marathon, satu tugas belum selesai masih ada lagi. Tambah lagi sampai menumpuk. Bingung harus mulai dari mana yang harus dikerjakan. Hari libur seakan tidak bisa bersantai, tapi ajang balas dendam biar tugas bisa diselesaikan. Karena senin menjelang, tugas akan kembali berdatangan :(.

Banyak bentuk tugas yang diberikan, seperti tugas individu atau tugas kelompok. Saya lebih memilih tugas individu. Enak, kerja sendiri tanggung sendiri. Terserah mau dikerjakan kapan, karena ketua,anggota ya diri sendiri. Kalau tugas kelompok? Kerja sendiri, yang lain titip nama aja. Mungkin tugas kelompok awalnya diberikan untuk melatih murid bekerja sama dan berinteraksi. Tapi setelah tugas dalam proses pengerjaan, biasanya hanya satu yang menjadi tulang punggung, ecieee. Yang lain tinggal tanya “gimana tugasnya udah” oooh men, memang benar hidup di dunia ini susah yaa :(.

Sekalipun tugas kelompok dan dikumpulkannya harus masing-masing individu, tapi tetap saja isinya sama, jadi kembali bergantung pada sang “kapten” buat menyelesaikan. Setelah itu tinggal copy paste. Masalah selesai. Coba tugas secara individu dan tidak boleh sama persis. Setidaknya walau mencoba malas, masih ada usaha untuk mengerjakan dan berpikir bagaimana caranya tugasnya tidak boleh sama.

Dosen/guru mungkin tidak usah ngajar, tinggal nyuruh muridnya mencari bahan, menyajikan, selesai dah. tapi sering mikir, itu tugas sebenernya buat apa sih? Cuma dikerjakan, dikumpulkan(walau kadang gak dilihat benar atau salahnya), terus dapat nilai? Kalau untuk tolak ukur paham tidaknya seorang murid, kan bisa saja mereka yang mengerjakan asal comot punya temannya? Takutnya kalau asal gitu, ya gak dapat apa-apa. Terus terjun di dunia kerja, asal comot yang penting dapat gaji. Dosa looh, masuk neraka pas, gara-gara sak kareppan sampek lupa taubat. Hih ngeri.

Ya mungkin beginilah keresahan saya tentang tugas. Tujuannya mungkin baik, tapi di realita uuh jauuuh dari harapan. Tugas mungkin sebagai formalitas, jarang ada dosen yang melihat benar salahnya. Nilai bagus mungkin dari banyaknya lembar kertas yang dikumpulkan; terus bagusnya tulisan tangan (penilaian macam apa ini? terus yang tulisannya jelek nasibnya bagaimana? -_-) atau mungkin bagus atau tidaknya animasi slide show di power point yang dikerjakan (ini lagi, penilaian macam apa jugaa, itu bikin tugas apa pamer animasi).

Jadi buat yang tugasnya numpuk nikmati aja yaa, jangan ngeluh karena kalau hanya ngeluh tugas gak bakalan selesai(ngomong sama diri sendiri). Kerjain yang bener, dipahami jangan asal garap. Siapa tahu nanti tugas itu berguna bagi engkau kelak hohoho. Kerjakan sebaik mungkin, jangan berekspektasi dapat nilai bagus dulu. Dapet ilmu lebih baik daripada dapet nilai aja kan? Karena nanti IPK itu sebatas angka, Ijazah sebatas kertas yang nanti difotokopi, dan gelar itu sebagai tempelan bukan nama panggilan :D. tapi IPK,Ijazah, dan gelar itu berguna juga kok. Jangan disepelein yaa. takutnya sehabis lulus, ijazahnya dibakar sebagai perayaan kelulusan 😀

Tulisan ini berlaku untuk tugas apa saja kayaknya. Gak Cuma tugas kuliah,sekolah,atau tugas akhir zaman. Insya Allah 😀

Advertisements

17 thoughts on “Tugas Oh Tugas

  1. wah gue pernah tuh ketemu dosen yang penilaiannya dari tulisan tangan. Alhasil semua mahasiswa/i harus nyatet biar di periksain tulisannya. Yang tulisannya jelek ya nasib dapet nilai jelek.
    Pernah ketemu dosen yang aneh2 juga ga? ahaha
    btw, ijazahnya bisa dipake buat bungkus nasi uduk sebagai perayaan kelulusan.

    Regards,
    Fahmy Haryandi
    ZOCKO

  2. tugas ya .. oh ..
    (inget tugas yg blm selesai)
    btw, tugas kelompok emang paling malesin suka gak sesuai expectasi kalo ngerjain bareng-bareng apalagi kalau menyerahkan ke yg lain, mau ngerjain sendiri juga gak enak, dilema ..

  3. masih mending ada yg nanyain tugas udh kelar apa blm.. klo saya, ditanyain aja nggak.. apalagi nawarin bantuan bwt ngerjain.. 😦 udh gitu yg namanya tgs kelompok pasti ngaret krn ujung2nya susah ketemuan, tunggu2an, dan deadline makin mepet.. walhasil dikerjain sndiri.. hedeeeh..
    ke-kurangpeduli-an anggota kelompok lain inilah yg bikin saya negor mereka.. alih2 sadar, saya malah dikasih hadits “janganlah kamu marah, niscaya bagimu surga..”
    jdi gemes2 ketawa ngenes gtu deh..

  4. Benar, dikasih tugas PPT numpuk. Tiba tiba besok gurunya nggak datang. Seringnya nggak dikumpulkan, malah disekolah dikasih tugas yang lainya. Kalau dikerjakan pas lagi moodnya bagus saja. Tapi, kalau nggak dikerjakan, takutnya besok dikumpulkan. Itulah, yang membuat anak meremehkan tugas (malas).
    Padahal, aku juga punya ambisi yang lain. Tapi, kadang kadang untuk mencapai ambisi itu, sedikit sekali waktu yang kupunya.

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s