[fiksi] Masakan Ibu Kos

sup ayam

Pagi di tanggal tua bulan ini disambut dengan bunyi perut Yanto yang keroncongan. Dompetnya sudah dibuka lebar-lebar dan diangkat keatas berharap ada recehan lagi yang jatuh menyusul uang lainnya yang berhamburan di lantai. Seribu,dua ribu, tiga ribu, lima ratus yah gak cukup. Tidak ada yang tersisa untuk hari ini. Yanto bisa saja makan seadanya dengan uang segitu. Kalau ingin makan dengan lauk yang enak setidaknya dia harus puasa menunggu buka besok pagi karena transferan orang tuanya baru besok diantar.

Yantopun mengamati keatas melihat kamar kosan mana yang masih terbuka. Akhir pekan di tanggal tua pasti membuat kosannya sepi. Teman-temannya memilih pulang kampung daripada harus menahan lapar dan mulai menggerogoti kasur untuk mengganjal perut. Nah ternyata si Arno masih di kosan. Segera Yanto melangkahkan kakinya ke tangga menuju kamar yang dituju.

“No, Arno…” Yanto mengedor pintu sebagai formalitas dan langsung membukanya.

“Weeh” Arno yang kaget langsung membetulkan celananya. “Ada apa,To?? Ketuk dulu laah?”

“Apanya yang belum, lah tadi udah kuketuk loh!!” Yanto melangkah masuk dan duduk karpet kamar Arno. “Barusan ngapain sih?”

“Jangan kepo ya!!” Arno menjawab ketus.

“Hahaha palingan lagi olah raga yaa” Selidik Yanto disambut tawa mengejek.

“Apa seeh,” Arno semakin kesal dengan kedatangan Yanto “mau apa kamu, To?? Tumben pagi-pagi sudah bangun. Biasanya masih ketutupan selimut”

“Iya rencananya sih gitu, No. Tapi gara-gara laper kebangun nih,” Yanto berhenti sejenak ragu-ragu, namun kembali dia melanjutkan, “pinjem uangmu lah, buat makan.”

“Woo, jadi pagi-pagi gini gangguin aku buat pinjam uang?” Arno mengepalkan tinju dan melayangkannnya ke lengan Yanto.

“Yoiii men, ada gak. Laper niih.” Yanto memegangi perutnya, “ada gak?”

“Gak ada”

“Sih, masak gak ada sih, No?” Yanto memohon.

“Beneran, tanggal tua ini. besok baru dikirim sama Umiku” Arno menunjuk ke piring yang ada di meja sebelah kanan Yanto, “tuh makanya aku beli martabak banyak banget. Nasinya udah abis. Kalau laper ambil tuh martabak”

Yanto menoleh dan melihat martabak yang tinggal sepotong. Seperti melihat harta karun segera dia menyambar makanan tersebut. Hampir basi sih, tapi gak apa deh buat ganjal perut.

“Wes sana turun deh, aku ada urusan masih gak bisa diganggu.” Usir Arno.

“Yoi, Men. Thanks yak” dengan martabak tergigit di mulut Yanto turun kebawah.

Ketika hendak mencapai tangga terbawah, Yanto melihat Ibu kos sedang sibuk di dapur yang letaknya berada di luar. Memang kosannya dirancang dengan dapur di luar agar peralatan masak bisa digunakan oleh seisi kosan. Tapi pada dasarnya kosan cowok, jarang ada yang masak. Jadi dapur tersebut hanya digunakan oleh pemilik kosan sendiri. Ibu kos Yanto sedang asyik memasak yang aromanya membuat perutnya berkerucuk pelan. Dengan langkah pelan Yanto mengendap-ngenap menuju kamarnya.

“Yantooo, jangan lupa terakhir bayar kosan tanggal 10. Kamu nunggak 2 bulan terus kena denda yaa” Teriak ibu kos yang membuat Yanto merasa gagal lolos dari ibu kos. Padahal dia sudah meraih gagang pintu.

“I… Iya, Buk.. besok udah ditransfer” Yanto menoleh dan melihat Ibu kos membelakanginya.

Nampaknya di dalam ruang tamu kosannya sedang kedatangan tamu. Karena Ibu kos sedang masak dalam porsi banyak dan banyak sandal berserakan di lantai depan sebelah kiri dapur. Suara hiruk pikuk ibu yang menenangkan anaknya juga terdengar dari dalam.

“Oke wes. Besok yaa.. eh, To kamu sudah makan?” Ibu kos menoleh dengan sendok sup ditangannya dan mencicipinya.

Yanto terlihat tergoda dengan apa yang ibu kos masak, “bel… belum buk.” Jawab Yanto diiringi dengan suara gemuruh dari perutnya.

“Hmm, sek yaa..” Ibu kos melangkah ke dalam sejenak dan keluar dengan mangkok dan piring di tangan. “Nih, buat kamu, To.” Ibu kos mengisi piring dengan nasi dan mangkok dengan Sup ayam

“hmm iya, Buk. Makasih ya” Yanto meraih pemberian dan segera masuk kedalam untuk segera menyantapnya.

“Eh, To!! Tunggu ini kasihkan Arno lagi ya!!” teriak Ibu Kos dari luar.

“Oh iyaaa sek sek, Buk.” Yanto keluar dan menerima pemberian yang sama dengan miliknya. “makasih ya, Buk”

“Iya sama-sama.” Ibu kospun masuk kedalam untuk menemui tamu-tamunya.

***

Yanto selesai menyantap masakan dari ibu kosnya. Lumayan rasanya, ibu kosku pinter masak juga ternyata. Masakannya masih tersisa, sepertinya ibu kosnya paham kalau dia tidak punya uang. Jadi makanan tersebut bisa dimakan untuk nanti malam. Eh ini kan bagiannya si Arno? Dilihatnya mangkuk dan piring satunya. Ingin rasanya mengambil bagian Arno untuk dirinya sendiri. Tapi nampaknya setan baik sedang bersamanya. Lantas langsung saja Yanto mengantarkan jatah Arno yang tentu saja sudah dicicipi sedikit.

Segera saja Yanto naik ke lantai dua. Dia melewati tangga dengan hati-hati agar kuah dalam mangkuk tidak tumpah.  Suara tangisan anak dari tamu ibu kosnya masih saja tidak berhenti. Tuh anak rewel banget sih.

“No, Arnooo?” Yanto mengetuk pintu dengan lututnya.

“Apalagi sih, To?” Arno menyahut dari dalam.

“Aku punya-punya nih”

“Kalau cucian kotor gak mau aku”

Yantopun mendorong pintu kamar Arno dan mendapati pemilik kamar sedang dalam posisi tengkurep.

“Heh, No!! Ngapain kamu!?” Yanto keheranan, untung piring dan mangkoknya tidak terlepas dari tangannya.

Arno pun merubah posisi tidurnya “Jangkrik kamu, To. Gak bisa liat orang lagi asik ta?”

“Ini loh, aku bawa makanan dari ibu kos, taruh mana nih?”

“Woh, tak kira ada apa??? Sudah taruh saja di meja terus keluar!!”

Yantopun menaruh barang bawaannya ke tempat yang ditunjuk Arno. Lalu diapun segera keluar.

“Kan biasa gak ditutup pintunya!!” Teriak Arno.

“Tutupen sendiri” Yantopun melesat ke lantai bawah untuk menghindari omelan Arno.

***

Besok paginya Yanto bangun dengan perasaan segar karena tidak kekurangan pasokan pangan dan uang sudah ditransfer oleh orang tuanya. Matahari belum tinggi, namun Yanto sudah bersiap ke kamar mandi. Ditentengnya peralatan mandi dan handuk digantung di pundak. Yanto melangkahkan kakiknya menuju kamar mandi. suasana kosan memang sepi tapi penghuni lain sudah mulai berdatangan. Jumlah sandal di tempat ibu kos juga masih banyak. Tamunya belum pulang masih ya.

“Wiu wiu wiu wiu”

Kayak suara siren ambulan. Yanto terhenti di beberapa langkah sebelum kamar mandi. Sontak suasana kosan langsung ramai. Karena bukan Cuma mobil ambulan yang datang, tapi sejumlah petugas kepolisian, dan warga sekitar juga meramaikan.

“BRAK BRAK BRAK!!”

Petugas polisi berbadan jangkung menggedor pintu rumah ibu kos. Tidak ada respon.

“BRAK BRAK BRAK”

Kembali tidak ada respon.

“Dobrak aja pak!!” teriak rekan petugas yang membuntutinya.

“Eee,. Ada apa ini yaa!!” Faris penghuni kamar atas yang bersebelahan dengan Arno keheranan.

“To!! Kamu bikin ulah lagi yaaa” Arno keluar dari kamarnya menuju lantai bawah.

“Apaneee, tuh coba liat” Yanto kesal karena disangka sebagai biar keributan

“Adik.. Adik harap tenang yaa!!” Kata salah satu petugas kepolisan.

“GUBRAKKKK”

Dengan sekali tendangan polisi yang berbadan jangkung berhasil mendobrak pintu rumah ibu kos.

“Ehh, ada tamu lagi yaaa” Ibu kos melayangkan senyuman dengan tangan kanan memegang pistol. “Masuk pak”

“Jangan bergerak!! Jatuhkan pistolnya !!!!”

“Ah bapak, jangan kasar gitulah..” ibu kos menjawab dengan santai.

Penghuni kosan yang bingung langsung mendekat kearah petugas. Terlihat ibu kos dengan penampilan berantakan. Ruangan di dalam juga tidak karuan. Ruangan itu adalah meja makan, nampaknya masakan kemarin masih belum habis. Namun disana masih banyak lalat berterbangan.

“Ehh jangan mendekat.” Hadang petugas yang berjaga di luar.

“Ah liat sebentar lah pak” pinta Arno yang sudah turun dari kamarnya.

“Pak, ayo bantu saya amankan ibu ini!!” Polisi jangkung menyuruh rekannya.

“Siap!!”

“Eeh bapak main keroyokan yaa. pilih mana, tangkap saya atau anak ini yang mampus?? Hahahaha” Ibu kos kin memegang seorang anak dengan terikat dan mulut tertutup lakban. Sepertinya anak ini yang menangis kemarin.

“Heeh, jangan berbuat aneh-aneh yaa bukk!!!”

Beberapa polisi mulai masuk untuk mendesak ibu kos. Seketika bau busuk menyeruap dari meja makan tersebut. Terlihat mangkuk dan piring yang berisi potongan tubuh manusia. Semuanya tidak dapat dikenali. Ada sepotong kaki yang sudah bercampur dengan kuah kaldu. Lainnya masih belum ‘terolah’.

Arno yang mengintip potongan tubuh manusia berada di piring dan mangkok teringat akan masakan ibu kos yang diterimanya kemarin. Sontak dia memegangi perutnya dan muntah-muntah. Matanya merah dan mulutnya berludah akibat kontraksi perutnya.

“Hahahaha bapak jangan main selonong aja yaa.” ibu kos menyengir sambil membawa dan menodongkan pistolnya di kepala anak yang dibawanya.

“Buk, tenang buk!! Kalau ngawur ibu bisa membunuh anak itu!!” Petugas polisi berperut tambun mengisyaratkan dengan tangannya.

“Hahaha tenang? Gini deh bapak-bapak semua, main yuk” Ibu kos menyeringai, tatapan matanya seolah setan yang haus darah. “Adu cepat yuk pak!!”

“Ibu saya peringatkan lagi!!” petugaspun menodongkan senjata mereka ke ibu kos itu. sementara di luar sedang tegang menyaksikan adegan tersebut. Yanto yang berada di dekat kamar mandi penasara mendekat.

“Hahaha yuk, Pak. Cepetan mana peluru pak polisi atau peluru saya” Ibu kos dengan pelan menekan pelatuk pistolnya. Tampak anak yang dipegangnya berkeringat dan menangis. Namun teriakkannya terhalang lakban  di mulutnya. “Saya hitung ya pak”

“Pak gimana ini” teriak salah satu polisi yang kebingungan.

“1”

Polisi lainnya perlahan mendekat.

“2”

Dapat. Salah satu tangan polisi tersebut berhasil menyergap badan anak yang disandera.

“3”

DOORRRRR!!!!.

Peluru berhasil menembus kepala ibu kos. Bukan dari pistol polisi. Tapi dari pistol di tangannya. Ternyata pelurunya sendiri yang lebih cepat menembus kepalanya.

Polisi segera mengevakuasi tempat tersebut. Potongan tubuh dari mayat yang disinyalir tamu-tamu ibu kos juga diamankan. Penghuni kosan diberi keterangan bahwa Ibu kos pemilik tempat itu memang memilik gangguan jiwa dan psikopat. Sudah banyak korban dari tangannya dan untuk menutup jejak mungkin semua mayat korbannya dimasak dan dibagi-bagikan kepada seluruh penghuni kosannya.

END

Hehehe ceritanya random ya. Saya nulis cerita ini dari pengalaman saya yang sering dikasih makanan sama Mbak kos saya. Terus iseng-iseng saya bikin cerita. Maaf kalau ada kurangnya. semoga suka yaa 😀

sumber gambar : klik dong

Advertisements

13 thoughts on “[fiksi] Masakan Ibu Kos

  1. “Kalau ingin makan dengan lauk yang enak setidaknya dia harus puasa menunggu buka besok pagi karena transferan orang tuanya baru besok diantar.” “mau apa kamu, To?? Tumben pagi-pagi sudah bangun. Biasanya masih ketutupan selimut”

    “Tutupen sendiri” <– perhatiin pemilihan kata, hahaha campuran kali kau pakai bahasa. :)))

    Errr…udah ah, sorry ga maksud cerewet, hahaha. *padahal yang komen gabisa disuruh bikin cerita*

      1. Hihihi sama-sama sorry (again) klo cerewet. Btw maksud komen di kalimat pertama itu ini: “Kalau ingin makan dengan lauk yang enak setidaknya dia harus puasa menunggu buka besok pagi karena transferan orang tuanya baru besok diantar.” <– "…transferan orang tuanya baru besok dikirim." Yakali duit transferan dianter. :p

  2. Masnya itu gak terbalik penempatan kata mengevakuasi sama diamankan?
    “Polisi segera mengevakuasi tempat tersebut. Potongan tubuh dari mayat yang disinyalir tamu- tamu ibu kos juga diamankan.” 🙂

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s