[fiksi] Seorang Maling ‘Keren’

Darsin duduk termenung di depan rumahnya. Dia baru saja selesai menangis, karena air mata, dan ingusnya berceceran di lantai membentuk sebuah karya seni abstrak yang tidak akan laku dijual. Kecuali ada kolektor seni khilaf yang mau membelinya. Darsin menangis bukan karena diputus pacar, dia jombloh akut dengan kriteria langka sehingga jarang wanita yang akan mau dengannya. Iyalah, jarang ada wanita yang mau dengan laki-laki yang suka berjudi kayak Darsin, sering kalah lagi. Wanita yang berhubungan dengan Darsin tidak lagi makan hati dibuatnya, soalnya beli kerupuk aja susah, gara-gara uangnya dibuat berjudi.

Sama seperti sore ini, Darsin yang baru saja pulang dari arena sabung ayam harus menelan ludah karena ayam taruhannya kalah. Sudah jelas dia kalah, karena ayam aduan yang dia pilih adalah ayam goreng KFC. Sekarang dia bingung, bagaimana caranya dia bisa dapat uang untuk berjudi lagi. Kantong celana bapaknya yang biasanya bisa menjadi kantong ajaib tidak memberikan hasil. Karena isinya bukan lagi rupiah bergambar sang proklamator, melainkan kartu nama bapaknya yang sedang berpose menaiki traktor.

Diamati sekelilingnya, rumah tetangga mana lagi yang akan dia target untuk mendapatkan modal berjudi lagi, begitu pikirnya.

“Ah kayaknya rumahnya pak Saman, cocok deh,” Darsin melirik pohon pisang yang sudah berbuah banyak dan siap panen.

“Darsiiiiin, hoi ngapain kamu?, sini bantu ibuuuk!!!!” suara jeritan membuyarkan rancangan imajinasi Darsin tentang buah pisang pak Saman yang akan diambil.

“huuh, iyaaa,. Apaseh buk!!” Darsin menyahut dan melangkah kedalam rumah dan tiba-tiba

‘BRUUUK’

“Ada apa Sin!??? Kamu akrobat lagi ta?!!”

“Aduuh,nggg gak kok bukk, gak apa!!!” Darsin meringis kesakitan karena dia terpeleset ingus dan air matanya sendiri. Dasar anak muda yaa.

Darsin sampai ke dalam ke asal suara yang memanggilnya dan mendapati ibunya yang masih menggunakan mukenah berusaha menggeser lemari.

“heeh, ibu manggil bukan buat kamu liatin!! Sini bantu!!!”

Darsinpun segera turun tangan biar tidak mendapat semprotan ibunya, padahal baru tadi pagi dia membantu wanita yang masih menggunakan mukenah itu menggeser lemarinya. Kurang cocok dengan tatanan kamarnya kata ibunya. Padahal mau ditaruh dimanapun tetap tidak ada pengaruhnya. Namun Darsin tetap saja menurut, karena kalau membantah mau dapat uang darimana lagi pikirnya.

“Yaak baguus, geser ke kanan sedikit, Sin” Ibunya memicingkan mata untuk mengira-ngira posisi yang pas. “sip… Fiuuh pantesan panas yaa, ternyata gara-gara mukenah ini mungkin ya” Ibunya menyingkap Mukenah dan menaruhnya di meja sebelah kanannya.

Dalam hati Darsin kesal menyahut “Ya iyaaaalaaah buk!!! Mukenah tebel gitu masih dipake buat ngangkat lemari segede tronton gini!!!”

“hmm nih buat kamu, nanti kalau bantu ibu lagi tak kasih lagi deh” Ibunya menyodorkan pecahan uang bergambar Imam Bonjol sebanyak dua lembar.

“Waah….” Darsin kegirangan, walau dalam hatinya ingin berkata “yaah kurang buuk”. Tapi dia urungkan, karena kalau mengeluh uangnya akan ditarik kembali. Dia mencari akal untuk mendapatkan uang tambahan. Diamati mukenah yang tergeletak di meja, dan mengingat pisang milik pak Saman, akhirnya lampu bohlam diatas kepalanya menyala(bukan, ini bukan bentuk imajinasinya ya, memang lampu kamarnya sedang menyala :p).

“sudah sana, Ibu mau ganti baju dulu!!”

****

Malamnya suasana daerah rumah Darsin nampak lengang, rumah-rumah dengan lampu menyala di teras, dan suara jangkrik bersahut-sahutan, mungkin sedang jangkrik itu jomblo dan sedang menggoda jangkrik lainnya, ya asal jangan spesies lain sih yang digoda. Cahaya lampu dan terangnya bulan membuat warna pisang yang kuning siap matang terlihat menggoda seseorang dengan kostum hantu seperti pocong. Siapa lagi kalau bukan si Darsin.

Dia berniat menakut-nakuti pemilik rumah sekaligus pemilik pohon pisang tersebut. Darsin mengendap-ngendap di sekitar pohon pisang dan mengawasi sekitar. Nampaknya aman, segera dia menaiki pohon tersebut.

‘Bruk’

Dia gagal karena pohon pisang itu licin dan buahnya terlalu tinggi untuk dicapai. Maka mau tidak mau dia harus memanjatnya.

“Apa yaa?” Suara bu Saman dari halaman belakang rumahnya.

Darsin tidak mempedulikannya, dia sudah mencapai puncak dan segera memotong tandan pisang..

‘Bruk’

Satu tandan pisang jatuh dan diiringi suara teriakan lagi dari bu Saman.

‘Bruk’

Tandan kedua, dan Bu Saman segera beranjak dari tempatnya menuju sumber suara.

‘Bruuuk….. aduuuh’

Waah pisangnya bisa bersuara, eh ternyata itu Darsin yang ikut terjatuh, dan diikutis suara teriakan bu Saman.

“POCOOONG!!! Pak ada Pocong, Pakk!!!”

“Mana buk? Mana? Hah?” Pak Saman tergopoh-gopoh sambil menggulung sarung keluar dari pintu belakang.

“ituu Pak yang duduk di bawah, Pak!!” Bu saman panik sambil menunjuk ke arah sosok putih-putih yang menurutnya adalah pocong.

“tenang buk, tenang, mana ada pocong duduk buk, biasanya loncat-loncat”

Darsin yang masih meringis kesakitan berusaha kabur dengan jalan terseok-seok sambil menggeret dua tandan pisang,.

“Pak, liat Pak. Pocongnya jalannya ngesot sambil bawa pisang kita pak”

“Buk, mana ada pocong makan pisang buk, lagian gak usah panik pisangnya dicuri, kan masih ada pisanngya bapak” Pak Saman masih sempat menggoda Istrinya yang sampai dibuat malu oleh tingkahnya, “eh kok malah, ngelantur. Bukan pocong itu buk, maling yang nyamar ituu!!”

“ah iya bapak bisa aja nih,hhihih” Bu Saman cekikikan kayak kuntil anak dapat berondong. “eh pak kejar pak, eman pisangnya tuuh.”

Segera pak Saman mengejar sang Pocong gadungan yang sekarang sudah mulai bangkit dan hendak kabur. “eeh berhenti, Cong!!” Pak Saman menoleh ke arah istrinya, “Ibuk tunggu di rumah ya.”

Darsin sudah bisa mengalahkan rasa sakitnya dan mulai berlari dengan pelan, sementara di belakangnya pak Saman seperti mesin jet berkecapatan penuh mengejar targetnya.

“Eh berhenti, Cong. Maling….. maling.. Pocong… Pocong,eh maling apa pocong ya? Ah maling aja deh,” Teriak pak Saman.

Darsin yang tidak mau tertangkap segera menambah kecepatannya, dia berencana pergi ke tengah sawah untuk bersembunyi dan ke pasar esok harinya menjual pisang hasil curiannya. Pak Saman terus mengejar dari belakang, dan dia sampai di pertigaan sekitar kampungnya, dan melihat anak-anak remaja baru saja pulang mengaji.

“Maliing!!! Eh Nak, bantu bapak ngejar orang itu,Nak!!” Pak Saman menunjuk ke arah Darsin yang terbirit-birit menghindari kejaran pak Saman.

“Eh, itu pocong apa maling pak?” Remaja berkulit sawo matang bernama Hanul menimpali.

“Masak ada pocong lari!!, ayo bantu bapak, tak kasih hadiah deh”

“Okee Paak, Pocong!!! Eh Maliing!!!” Jawab mereka serempak dan mulai melakukan pengejaran.

Tapi Darsin tetap berusaha kabur walau yang mengejarnya semakin banyak, dia memutar otak agar bisa lolos. Segera dia berbelok dan mendapati pagar yang menjadi batas area penduduk dan persawahan. Segera dia melompati pagar tersebut agar bisa masuk ke area persawahan dan bersembunyi disana. Dia mengambil ancang-ancang untuk melom–

“Awwwwwrrrgg”

Mukenahnya tersangkut pagar dan dia terjatuh di kubangan lumpur tempat menyemai benih padi yang baru saja dibajak tadi sore. Seperti lumpur hidup, Darsin susah untuk bangun karena lumpurnya lumayan untuk membuatnya tidak berkutik.

“Oalaaah Darsiiin toh pocongnya, Eh malingnya” Remaja yang membantu pak Saman mengejar menyoroti Darsin yang belepotan lumpur dengan senter yang ada di Hpnya (anak jaman sekarang, ngaji tapi bawa HP -_-)

“Ayo hajar Paak!!!” teriak Hosni yang paling kecil dan sok berani.

“Eh Ampuun-ampuun, ini Pak.. pisangnya tak kembalikan, jangan dipukuli tapii!!” Darsin yang masih lengkap dengan kostumnya memohon.

“aah ayoo Pak! Biar kapok!!” Hosni mengambil ancang-ancang namun disergah oleh pak Saman.

“Sudah-sudah jangan anarkis, kan udah gak berkutik, mending tinggal disini aja gak usah dibantu” Pak Saman segera mengambil tandan pisang yang berlumuran lumpur. “Nih satu buat kalian, bagi rame-rame yaa”

“horeee, pesta ini broo” Sahut salah satu remaja yang bernama imam.

“Buat saya mana, Pak?” Darsin yang dari tadi dicuekkin mengulurkan tangannya minta bagian.

“Wooh, orang ini!! nih Satu aja.” Pak Saman melemparkan sebuah pisang yang paling kecil untuk Darsin. Kayak pawang memberi makan monyetnya gitu :D.

Mereka pun meninggalkan Darsin seorang diri di kubangan tersebut. Sementara Darsin masih heran kenapa dia masih ketahuan, padahal dia sudah melakukan penyamaran yang sempurna menurutnya, sambil melihat kostum pocong dari mukenah milik ibunya, yang banyak sekali motif-motif bunga dan buah-buahan bertebaran yang sekarang berwarna tambahan cokelat dari lumpur.

Mungkin kalau para hantu melihat motif kafan tersebut, mereka pasti akan iri, sejak kapan ada pocong yang peduli terhadap mode seperti itu ya. 😀

 END

Heehe, ceritanya mau nulis komedi gitu. Mau belajar gitu, kan biasanya Horror. maaf kalau kurang lucu ya.. Semoga suka.

Kasih saran juga yaa telimikiciw :*

 

Advertisements

20 thoughts on “[fiksi] Seorang Maling ‘Keren’

  1. inikah fiksi yang konon bertajuk “komedi”? XD
    menurutku ini konyol sekonyol orangnya haha. engga deng.
    dan aku ngga maksud itu ibunya darsin beres-beres nggeser kesana kemari masih pake mukena gitu? XD *aku gak bisa membayangkan*

    “Pak, liat Pak. Pocongnya jalannya ngesot sambil bawa pisang kita pak” <- lagi lagi ide liar.

    duhh tauk deh mase ini. absurnya belum sembuh juga rupanya. 😛
    tauk deh. ngga mau komentar lagi aku. tauk deh 😛

    1. Kebiasaan ibu rumah tangga, abis sholat ada yg belum melepas mukenah. Terinspirasi dari ibuk saya :3
      Wkwk aku menebar punchline di sepanjang tulisanku soalnya ila chan :3

      1. bukaaan, tapi di setiap kalimat aku bikin setup punchline. struktur dasar dari sebuah joke hehe
        kayak: “dia kalah taruhan sabung ayam lagi, jelaslah yang dipake ayam goreng kfc”
        biasanya kalau cerita komedi, yang lucu di bagian akhirnya kan, tapi aku bikin di setiap paragraf ada lucunya biar gk bosen nunggu endingnya hohoo

  2. bagus ini. ngakak gua. apalagi pas kalimat “kan ada pisangnya bapak.”
    hahaha. keren keren. tapi gua gak tau sih kenapa lo bilang ini komedi horor. karna gua gak dapet horornya.

      1. alhamdulillah sekarang sudah ketemu kan jati dirinya? kalau jodoh sudah belum?
        *eh keceplosan*
        :3

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s