[fiksi] Sepenggal Obrolan

Sembari menunggu air mendidih untuk membuat kopi sebagai teman lemburku, kurenggangkan otot dan sendi leherku. Terdengar gemeretak dan aku sejenak merasa lega. banyak yang bilang kalau terlalu sering melakukan ini akan berdampak buruk bagi sendi-sendiku. Ah biarlah aku abaikan daripada tubuhku terasa kaku setelah berjam-jam menatap monitor dengan monoton dan tanganku mengerjakan laporan yang harus disetorkan. Aku tidak bisa menunggu hari berikutnya untuk menyelesaikan semuanya, kecuali kalau aku ingin bebanku bertambah. Terlihat kepulan asap dari teko yang berada diatas kompor dengan api biru yang tak terlalu besar. Nampaknya sudah mendidih, segera kuangkat dan kutuang isinya ke cangkir cokelat berisi bubuk kopi dengan sedikit gula di meja sebelah tempat aku memasak air. Sudah selesai, sekarang kembali berperang dengan tumpukan kertas dan tabel di monitor. Dengan menyeruput perlahan secangkir kopi ditanganku, aku menatap monitor, meniliti kembali hasil pekerjaanku.

Saat aku sibuk menyunting terdengar seperti bunyi ‘Tung!” dari aplikasi mesenger di komputer yang aku pakai. Siapa malam-malam begini yang masih online, aku bergumam dalam hati dan melihat pesan yang kuterima.

“anjani102: malaam mas, semangat ya buat lemburnya :)”

Anjani102, username ini tidak pernah aku lihat selama aku menggunakan aplikasi ini. Aku juga tidak kenal dengan dia. Lebih baik aku abaikan saja pesannya barangkali hanya orang iseng. Segera kulanjutkan pekerjaanku, kali ini bukan berkutat pada monitor melainkan tumpukan kertas yang berada disamping bersebelahan dengan cangkir kopi yang menindihnya. Laporan berpuluh halaman kubolak-balik untuk mengecek apa ada yang salah, walau sebenarnya hasil kerjaanku tidak pernah diperiksa. Setelah selesai menjadi arsip tanda tangan pada daftar pengumpulan datapun hanya sebatas formalitas. Selang beberapa saat bola mataku asik berputar di depan laporanku, kembali terdengar bunyi “Tung!”

“anjani102 : ah mas serius amat sih kerjanya. Sampek aku dicuekin nih!”

Hm ternyata orang yang sama, akupun penasaran dan menjawab pesannya.

“sir_gane: ini siapa sih, makasih buat semangatnya deh”

Selang beberapa waktu pesanku terkirim dan terlihat tulisan “has seen on…” dia membalas.

“anjani102: ada deh, mas gak perlu tau :p. Lagian kerjaannya sudah selesai kok belum pulang?”

Sontak saja aku terkejut melihat pesan tersebut. Bagaimana dia tahu kalau semua pekerjaanku sudah selesai? Mungkin dia karywan lain yang juga ambil bagian lembur malam ini. tapi hanya aku seorang yang ada disini. Teman-temanku lebih memilih pulang karena besok akhir pekan.

“sir_gane: kok tau? Kamu siapa sih, kok gak mau bilang?

“anjani102: rahasia pokoknya deh mas, lagian aku kan cuma pengen ngobrol. Gak ganggu kan?”

Memang kehadirannya tidak mengganggu karena pekerjaanku sudah tinggal disetorkan. Lagipula aku juga bisa melepas rasa sendirian karena tidak ada yang bisa kuajak bicara selama lembur malam ini.

“sir_gane: iya deh,lagian kerjaanku sudah selesai. Kamu kerja di kantor ini juga ta?”

Sambil  menunggu balasannya, kuteguk perlahan kopi yang sudah agak hangat-hangat kuku. Terdengar suara rekaman yang mengumandangkan ayat-ayat Al Qur’an, tanda sebentar lagi akan masuk waktu subuh. Senyum kecil terbentuk dari bibirku, teringat ketika dulu waktu kecil. Orang bangun ketika pagi menjelang hanya dengan alarm alami dari ayam berkokok. Sekarang semua sudah tergeser, tidak banyak orang yang memelihara ayam di tengah-tengah kota yang aku tempati sekarang. Era digital menggantikan semuanya, tinggal mengatur alarm dari smartphone dan memilih suara untuk dibangunkan. Bahkan ada yang mengeluarkan adzan sesuai dengan jadwal sholat untuk sekedar mengingat. Sesaat kemudian bunyi “Tung” kembali terdengar.

“anjani102: hehe iya mas, tapi dulu. Hm mas nginep di kantor lagi ya?”

“sir_gane: hmm kamu mata-mata ya? Kok bisa tahu apa yang kerjain disini.”

“anjani102: hehe hebat aku ya, bisa tahu masnya ngapain aja. tapi aku bukan mata-mata kok mas :p”

Aku hanya mendengus karena penasaran. Sepertinya orang dibalik “anjani_102” ini meledekku, mungkin dia teman kerjaku yang sengaja mengerjaiku.

“sir_gane: ini jejen ta? Wes talah jen. Malem-malem gini masih aja iseng.”

Aku mengira dia Jejen teman kantorku yang sering iseng mengerjai rekan-rekannya. Apalagi dalam urusan mengerjai akun-akun sosial milik teman-temanku di kantor ini. sudah banyak korban keusilannya. Mungkin saat ini aku giliran korban kejahilannya.

“anjani102: hihi, ih jejen katanya. Sapa itu jejen mas. Gak kenal ah, aku anjani mas.”

“sir_gane: hmm embuh wes, aku tak sholat dulu.”

Entahlah, aku juga tidak terlalu peduli dengan siapa aku berbincang-bincang, yang pasti adzan shubuh sudah berkumandang. Lebih baik aku menghadap Tuhanku dulu. Kutinggalkan komputer di meja kerja menuju mushollah di lantai bawah. Mungkin akan menjadi seperti akhir pekan yang biasanya aku lewati. Jamaah yang mengisi subuh kali ini akan sepi. Walaupun hari-hari biasa juga sepi, hanya sebaris shaf laki-laki dan segelintir jamaah perempuan. Dan ternyata benar, setelah adzan dikumandangkan jamaah yang datang hanya hitungan jari.

Segera aku menuju tempat wudhu’ untuk memenuhi syarat sahnya shalat. Sekaligus membersihkan mukaku yang penuh lengket dengan sabun muka yang kubawa di tas kerjaku. Setelah selesai semua prosesi wudhu’ kutepuk-tepuk mukaku dan semilir angin pagi terasa segar menuju mukaku. Segera kulangkahkan kakiku menuju mushollah dan mendirikan sholat sunnah sebelum iqamah dikumandangkan muadzin. Terlihat beberapa orang yang sudah tidak asing kutemui yang akan melakukan sholat shubuh pagi ini. Seperti satpam dan teknisi yang mendapat jam malam dan orang-orang disekitar kantorku.

Selepas shalat dan melantunkan beberapa doa, aku tak langsung beranjak dari tempatku. Sejenak kurebahkan tubuhku di atas lantai yang beralaskan sajadah panjang menyamping bergambarkan masjid dengan Ka’bah dibagian bawah. Kulipat tanganku dan menjadi tumpuan pengganti bantal di tengkukku. Mataku sayup-sayup terbuka dan tertutup. Sepertinya rasa kantuk mulai menghampiri setelah semalaman tidak tidur. Pengaruh kafein juga sudah mulai menghilang. Tak lama aku asik dengan perjalananku menuju alam tidur, pak Badi, teknisi yang juga ikut berjamaah menghampiriku.

“Abis lembur nih dek.” Pak Badi bersandar dengan kaki selonjor di pinggirku.

Sementara aku masih berbaring menjawab, “iya pak, sekalian saya selesaikan hari ini, biar gak ada tanggungan pas liburan.”

“iya dek. Kamu enak kerjaan selesai urusan selesai. Kalau saya gak tentu, harus stand by kalau-kalau ada yang rusak. Ya kayak malam ini.”

Dengan penasaran aku bertanya pada pak Badi “ hmm kerusakan apa ya pak? Komputer lagi ta?”

Sambil memainkan lehernya, karena kelelahan mungkin, pak Badi menjawab, “kalau cuma komputer sudah biasa dek. Rada ruwet yang sekarang. Soalnya jaringan yang bermasalah, jadi semaleman maaf kalau internetnya gak bisa konek ya dek”

Semalam internetnya gak bisa konek? Lalu semalaman aku browsing mencari data untuk melengkapi laporanku aku kan menggunakan koneksi darimana?

“ah yang bener pak? Semalem saya ngenet enak-enak aja tuh pak?”

“enak apane dek? Wong koneksinya sampek sekarang masih saya matiin dari ruang jaringan loh”

Nampaknya aku yang ngelindur, kututupi kebingungaku yang mengatakan bahwa pak Badi sudah mematikan koneksi internetnya. sedangkan aku yakin semalam asyik browsing dan bahkan melakukan chat dengan seseorang.

“hmm iya wes pak, kalau gitu saya keatas dulu ya pak buat ngecek,” masih dengan rasa penasaran yang kututupi. Aku ingin mengecek apa yang sebenarnya terjadi.

“hmm iya wes dek kalau gak percaya, aku tak tidur dulu,” Pak Badi menganga dan merentangkan tangannya kesamping kemudian berbaring. Sementara aku beranjak ke lantai dua, ke ruang kerjaku.

Tak memakan waktu lama untuk mencapai ruang kerjaku berkat lift yang ada di kantor ini. Aku berjalan melewati koridor dengan figura lukisan dan piagam penghargaan yang ada di kantorku ini. dengan sedikit terhuyung aku tiba di depan pintu ruanganku dan melangkah masuk. Terlihat komputer yang semalaman kupakai masih menyala. Segera kuhampiri dan ternyata yang kulihat membuat pernyataan pak Badi benar mengenai koneksi internet semalam. Tanda koneksi internet tak terhubung terpampang jelas dipojok kanan bawah komputer bersanding dengan tanggal dan waktu yang menunjukkan hari ini. kubuka browser yang kupakai, dan ada gambar seperti dinosaurus ciri khas google chrome yang menunjukkan tulisan “Anda Tidak terkoneksi ke internet”. Dan juga kolom obrolan facebook yang nampak buram menutupi temanku yang online bertuliskan “unable to connect.

“Tung!!” Suara ini datang lagi, jelas ini mengagetkanku. Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar, dengan kondisi internet yang mati tidak akan ada pesan yang bisa kukirim dan juga pesan yang kuterima. Dengan sedikit gemetar di tangan kubuka aplikasi messenger tersebut. Keringat dingin juga perlahan keluar dari bawah leherku, dan melihat sebuah pesan

“anjani102: mas gane sudah sholatnya? Hehe maaf udah ganggu mas, tapi gak ada niatan kok. Aku cuma salah satu penghuni kantor ini. aku cuma minta temenin aja, hehe.”

Sambil menelan ludah aku membaca pesan yang kuterima, sebentar kemudian dia menulis kembali.

“anjani102: hehe sudah biasa aja mas, gak usah takut. Aku ada di sampingmu mas, sebelah pot deket jendela. Tenang aku cuma butuh teman ngobrol aja. besok-besok lagi ya mas :)”

Kulirik secara perlahan kearah yang dia tulis di pesan. Memang ada pot bunga di sebelah jendela, pupilku mungkin akan berubah bentuk, akibat efek tegang bercampur takut. Wanita dengan berseragam kemeja berlengan pendek dan menggunakan rok setinggi lutut tepat berdiri menunduk disana. Rambutnya sepanjang perut menutupi wajahnya. Sontak kaget dengan apa yang kusaksikan. Dia mendongakkan wajahnya. Terlihat pucat dengan sedikit urat di wajahnya yang nampak transparan, dia tersenyum simpul dengan pandangan kosong. Tak lama memang aku dan dia saling bertatap, karena dia berjalan melayang mundur kearah tembok dan menembus hilang di balik tembok. Meninggalkanku yang masih berdiri merinding dengan jari tangan memegang tuts keyboard. Terdiam dan tak tahu harus melakukan apa. Bahkan untuk sekedar berteriak menunjukkan rasa takutku.

 END

waah nampaknya saya telat buat publish ya :D. maaf minggu kemaren ada sesuatu jadi absen lagi.

semoga suka dengan ceritanya, kalau ada masukan saran dan kritik tulis di kolom komen ya. Biar bisa lebih baik lagi nulisnya 🙂

 

Advertisements

9 thoughts on “[fiksi] Sepenggal Obrolan

  1. ah keren keren ceritanya.

    dari penulisannya juga udah mulai berkembang nih mase.

    ciee. /tebar konferti*

    tinggal penekanan feel-nya aja. coba point of view-nya di ganti orang ketiga bukannya “Aku” mungkin tambah menarik.

    menurutku sih

    1. Iya pengennya sih begitu. Tapi aku belum siap menjadi orang lain #aseek.
      resiko penggunaan pov orang pertama ya gk bisa jelasin feel tokoh lain hoho
      Telikiciw ila chan :3

  2. mas mas, aku ws penasaran yaa sapa tau pengagum rahasiaa . buh ee trnyata….
    bacanya dini hari pisan . hiii atutt
    kereeennn mas critanyaaa 😉

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s