[fiksi] Sebuah Kamar Kosan

Malam selarut ini memang pas untuk menikmati quota internet yang banyak, maklum baru tadi sore aku mengisi pulsa untuk membeli paket data agar bisa berselancar di dunia maya. namun sayang, kamar kosku seperti menyerap sinyal dari smartphone yang kumiliki. Entah karena kamarku berada di bawah beton, sehingga tidak ada sinyal dari operator seluler yang berhasil menembus kamarku. Walaupun bisa kugunakan untuk mengirim pesan walau dengan pending yang bisa berjam-jam untuk bisa masuk ke nomer yang kutuju, tapi untuk menelpon aku harus naik ke atas loteng tempat yang biasa menjemur pakaian. Begitu juga untuk menikmati paketan internet, aku hanya bisa duduk atas loteng seperti malam ini. sambil menahan pantat yang dingin karena hanya menggunakan boxer dan kaos tipis, angin malam menghembus lembut tapi menusuk di loteng yang tak bertehel hanya dialasi oleh polesan semen.

Sambil berselancar di dunia maya kuraih air mineral dalam botol yang masih tersegel. Kuletakkan Hp di pahaku dan berusaha membuka tutup botolnya. Ternyata terlalu kencang aku membukanya sehingga airnya agak tumpah, untung tidak mengenai benda yang kugunakan untuk berinternet ria. Langsung kutenggak dari botolnya, karena malas menggunakan gelas, kurang nikmat. Lidahku bergerliya disela-sela gerahamku untuk mengambil serpihan pisang goreng yang tadi  tersantap sebelum naik ke loteng,sambil jari-jariku mencari di gigi taring bagian samping. Maklum tidak ada tusuk gigi di kosanku. Teringat teguran orang-orang yang terasa jijik ketika aku melakukan aktivitasku ini di depan umum. Memang apa salahnya sih? Toh nanti  kubersihkan, sisa makanannyapun juga aku telan. Walau kadang aku ludahkan.

Momen seperti ini biasanya dilengkapi dengan kucing liar yang saling bertengkar, atau hendak berhubungan badan. Kalau mau bersetubuh malam seperti ini gak apa-apa sih, tapi kalau mau bertengkar kok gak mau cari waktu siang aja. Sering kali kulemparkan sapu untuk melerai kucing yang sedang marahan. Selain itu suara cekikian wanita dan pria kamar di bawah lotengku juga melengkapi suasana malam ini. Rupanya Ardan membawa pacarnya sampai larut begini. Memang dengan kosan yang agak bebas begini hal ini sering terjadi.

“iih janganlaah, kan geli, hhihii.” Suara manja terdengar dari pacar Ardan nampak menggoda. Sampai saat inipun aku belum tahu namanya.

“hehe apanya sih yang geli,hihihi.” Ardan menimpali pacarnya. Entah apa yang mereka lakukan setidaknya suaranya lebih baik daripada kucing tengkar. Walaupun, kadang si Cewek pernah menangis karena kelakuan Ardan.

Sesaat setelah Ardan dan pacarnya yang bisa kusebut sedang bermesraan terdengar suara ‘Jegreeeeeeeeekkkkk’ dari luar. Suara gerbang kosanku yang karatan dibagian bawah sehingga kalau ada orang yang menggesernya akan berbunyi seperti itu. Ibu kosku nampaknya sudah pulang entah darimana dan sepertinya suara manja-manjaan dari Ardan dan pacarnya menghilang. Dalam hatiku meledek “hahaha kapok”. Kulihat Ibu kos berjalan masuk dan menghampiri kamarku yang terbuka dan lampu masih menyala.

“Rooo…. Siroooo,” nampaknya Ibu kos tidak menemukan aku.

“Hmm iya mbak!!” dari atas aku menimpali panggilannya, ku panggil dia mbak karena usianya tidak jauh diatasku.

“Eh jangan lupa uang kosannya yaa!! Besok terakhir bayar!!” Setengah berteriak, Wanita itu menengok kearah loteng. Salah satu kebiasaan Ibu kosku, selain sifatnya yang ramah, kalau nagih uang kosan tak kenal waktu.

“ohh iyaa mbak, nanti tak ambil uangnya dulu di ATM.” Aku menjawab sambil turun kebawah.

Ibu kosku masuk ke dalam rumahnya, walaupun jadi satu dengan bangunan kosanku. Kutengok kamar Ardan, yang gelap dan pastinya terkunci. Namun seketika aku teringat sesuatu dan jantungku tiba-tiba berdegup lebih kencang. Bukannya Ardan tadi sore pamit kalau mau pulang kampung kan?!! Kulihat di tempat parkir, motornya juga tidak ada. Oh meeen…. semoga gurauan yang kudengar tadi hanyalah halusinasiku semata. Cepat-cepat kulangkahkan kaki menuju kamar dan segera beranjak tidur aku tak mau berlama-lama di luar. Kuputar lagu dengan volume keras dari laptopku agar semakin terlelap menuju tidurku.

****

Esok paginya Ibu Kos melakukan patroli ke setiap kamar yang masih belum bayar uang kosan, tiap tanggal 15 dia melakukan aksinya. Tak terkecuali kamarku, setelah menyisiri kamar lantai dua sekarang dia turun untuk menagih kamar bawah. Untung aku ingat untuk mengambil uang agar bulan ini aku tidak kena omelan lagi.

“Makasih ya..” Ibu kos menerima uang dengan sumringah.

“okok mbak,”

Ibu kosku lalu masuk kedalam rumahnya karena patrolinya sudah selesai, sementara aku melihat kamar Ardan dengan sedikit keder mengingat peristiwa semalam. Depan kamarnya duduk seorang wanita berambut panjang dengan baju lengan panjang putih bermotif garis-garis seperi model selimut rumah sakit dan bercelana jeans sebetis sambil bersimpu menutupi mukanya. Rupanya pacar Ardan, sepertinya dia sedang menangis. Ardan nampaknya sudah datang setelah kutoleh tempat parkir motornya ada disana. Perkiraanku Ardan bertengkar lagi, biasanya kalau sudah bertengkar seperti ini, pacarnya akan menangis. Entah di dalam kamar atau di depan pintu seperti yang dilakukannya sekarang.

“jeduk… jeduuk”

Pacar Ardan memukulkan sikutnya ke pintu kamar pasangannya. Tak terdengar respon dari dalam kamar. Aku tidak tau apa yang terjadi di antara mereka, bukan urusanku juga. Tak lama aku memperhatikan wanita itu menangis, terdengar suara motor dari luar gerbang. Sepertinya Reno, teman kamar sebelahku.  Rupanya benar, dia memasuki kosan melewati kamar Ardan yang berada di sebelah berbang kosan. Pacar Ardan melipat kakiknya agar tidak kena ban motor Reno.

“Eh Eh Men, ceweknya Ardan nangis lagi ya, sebentar mesrah sebentar tengkar hehe” Aku setengah berbisik kepadanya sambil melirik kearah wanita itu saat Reno memarkirkan motornya.

Reno membuka helm yang menutupi wajahnya, dan menaruhnya di kaca spion. “Cewek mana Bro? Ngelindur arek iki.” Reno menjawab dengan nada medoknya, dan berjalan menuju kamar yang tepat disebelah kamarku.

“Laah ituu looh, depan pintu kamare Ardan…” aku menunjuk kamar Ardan.

“Mana seh Bro, aku lewat gak ada siapa-siapa gitu” Dia melihat ke arah kamar yang aku tunjuk untuk meyakinkanku dan ternyata tidak ada seorangpun disana, hanya pintu kamar ardan yang tertutup rapat.

“Haah???? Looh tapii.. tadi ada men, beneran nih”

“Makane jangan suka liat dunia lain, kena efeknya dah” Reno meledekku dan masuk kedalam kamarnya.

“Duh emboh wes Men,”

Aku masih bingung, jelas-jelas aku melihatnya. Bentuk tubuhnya, suara tangisnya yang pelan. Tapi sesaat setelah Reno bilang tidak ada siapa-siapa, kenapa wanita itu seakan pergi dengan cepat dan membuatku seperti orang aneh. Ah entahlah, mungkin halusinasiku lagi.

****

Jam 7 malam, memang tidak cocok untuk mandi. Tapi sudah jadi kebiasaanku yang malas untuk mandi sore hari. Ada yang bilang bisa jadi penyakit, kan itu hanya sugesti, nyatanya rasanya malah lebih segar mandi jam-jam segini. Sekaligus bisa melupakan kejadian tadi pagi.

“Rooo, cepetaaaan….” walaupun samar, aku tahu itu suara Ardan yang memanggilku.

“Yooo, seek hampir selesai” aku menjawabnya sambil melilitkan handuk di badanku.

Kubuka pintu kamar mandi, dan berjalan menuju kamarku sambil memegang handuk di tangan kiriku sedangkan tangan satunya meneteng peralatan mandi. Ardan yang bersandar langsung menerobos masuk dengan memegang perutnya.

“Wuuuh lama Ro, mau keluar sudah di ujung nih!!!” Ardan sedikit kesal dan menutup pintu kamar mandi.

“Hahaha kapooook, kok gak berceceran dari tadi ya. Eh jangan lupa disiram yooo!!!”

“Yoiii, kalau berceceran kamu mau ta!!!” Ardan berteriak dari kamar mandi. Sambil aku meninggalkannya buang air.

Akupun tiba di kamarku, setelah menutup pintu aku langsung menggantungkan handuk dan bersiap ganti baju. Setelah semua selesai, tanpa menyisir rambutku aku keluar kamar dan langsung ke loteng untuk berinternet ria. Baru beberapa langkah menaiki anak tangga, ibu kosku memanggilku dari bawah.

“Rooo kamu sudah makan?”

“Hmm sudah tadi siang mbak,”

“ohh iya wes, kalau mau makan, nanti tak kasih ya”

“hmm gak wes mbak, makasih” aku menjawab sungkan. Seringkali ibu kosku memberi makanan.

“Sudaahlah gak usah malu, nanti bilang kalau mau makan. Ambil sendiri di dalam” Ibu kosku tetap teguh menawarkannya padaku. Mungkin nasinya kelebihan, jadi sepertinya dia ingin memberinya padaku biar tidak terbuang percuma. “ eh iyaa, bilang sama temenmu, kalau mau kos ada kamar kosong.” Ibu kos melanjutkan.

“Kosong? Kosong mana mbak?” aku bertanya karena tidak tahu siapa yang pindah dari kosan.

 “itu, Ardan seminggu yang lalu kan meninggal gara-gara tabrakan. Sama pacarnya dia, kasihan dua-duanya meninggal semua.” Ibu kos menjawab pertanyaanku.

Akupun terkejut mendengarnya karena tidak tahu, soalnya aku pulang kampung seminggu lalu dan tidak ada kabar dari teman-temanku. Ardan meninggal? Seminggu yang lalu? Sama pacarnya? Yang tadi nangis di depan kamarnya siapa? Terus yang barusan ke kamar mandi siapa?

“Innalillah, hmm iya mbak, nanti tak kabar-kabar dah mbak” aku menjawab sambil menyembunyikan keterkejutanku.

Ibu kosku kemudian berkata, “iya wes, jangan lupa kalau mau makan, ambil sendiri nanti ya. Gak usah malu” lalu diapun masuk lagi ke rumahnya.

Aku masih bingung, sudah tiga kali ternyata peristiwa aneh ini terjadi. Walau bukan piring cantik yang kudapat tapi makanan dari ibu kosku, tetap saja aku tidak percaya dengan yang terjadi. Kumasukkan Hpku ke saku celana, dan turun dari loteng menuju kamar mandi. Aku harus meyakinkan diriku siapa yang tadi terburu-buru ingin buang air besar, Ardan atau bukan. Kuberjalan dengan tergesa-gesa, sehingga hampir saja terpeleset karena lantai licin. Namun sesampainya di depan kamar mandi jantungku tiba-tiba berdegup kencang.

Kosong!!! Tidak ada siapa-siapa disana. Hanya ada bak air yang penuh dengan air yang menetes dari krannya. Akupun bingung dengan semua yang terjadi. Kalau kuceritakan pasti tidak akan ada yang percaya. Yang pasti kalau kejadian aneh tentang Ardan dan Pacarnya terjadi lagi, sepertinya aku harus pindah juga dari kosan ini. Ya semoga saja tidak ada lagi, aku juga takut kalau hal ini terus-terusan terjadi dan aku masih ingin betah kos disini. Walaupun tak terlalu akrab dengan Ardan mungkin cara dia untuk berpamitan.

END

semoga suka yaa :). Saran dan kritik yang membangun masih saya butuhkan 😀

Advertisements

25 thoughts on “[fiksi] Sebuah Kamar Kosan

  1. mas serem mas critanya haduuu . bner iki .
    smbil nunggu sahur baca2 biasae ngntuk , enggak kalo sekarang malah clingak clinguk takut ada yg bneran
    hihi

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s