[fiksi] Sebuah Blog Tak Bertuan

Ku lihat jumlah pengunjung  dari blogku hari ini. tadi pagi baru ku publish sebuah cerita cinta tentang remaja, ya seperti itulah ku coba mengikuti minat dari sebagian besar pengunjungku. Bermacam respon yang kudapat dari mereka. Berkat konsistensiku mungkin, umpan balik yang positif kudapatkan dari pembacaku.

“Wah, keren gan tulisannya. Gak nyangka endingnya bakalan seperti itu”

“good job broo!! Lanjutkan!! Tulis yang lebih keren lagi”

“ah gagal pertamax gan”

ya, memang tidak semua hal baik yang kudapat. Ada saja ulah orang iseng yang hanya meninggalkan jejak agar tidak mendapat julukan “silent rider”. Hanya memenuhi kewajiban sebagai blogger dalam menjalankan tugasnya, blogwalking. Sebuah komentar sekadarnya tanpa membaca keseluruhan isi tulisan. Tapi tak apalah, mereka juga bisa meramaikan tempat yang menjadi kesibukanku setiap hari. Walau tidak kubalas komentar mereka satu per satu, tapi aku membaca semua respon mereka. hanya saja aku tidak bisa menerima ketika datang komentar:

“kak, lembar harian intana kapan dilanjutkan nih? Aku nunggu lama gak ada yang baru nih”

“aah keren tulisanmu kak, tapi omong-omong, Lembar harian intana kapan ada lagi? Kangen”

“aah gagal pertamax gan”

Aku bisa memaklumi ribuan komentar spam daripada harus membaca satu komentar yang berisi pertanyaan kapan Lembar Harian Intana dilanjutkan. Kalau bukan karena keinginan kuat menjadi penulis, tentu aku tidak akan tahan menerima pertanyaan tersebut. Malah aku akan berhenti menulis dan mencoba hal baru. Tapi ini duniaku, mudah dan sulitnya akan aku terus coba hadapi. Lembar Harian Intana, adalah awal mula aku mencintai dunia kepenulisan. Ya memang walau belum satupun tulisanku yang berbentuk buku. Hanya berupa tulisan maya yang betengger di blogku. Tulisan tentang wanita bernama Intana bukanlah karya pertama yang aku post di blog, sudah banyak catatan yang mendahuluinya. Namun ada perasaan lain ketika kucoba mengetiknya, selain itu banyak orang yang melirik dan berkunjung ke blogku karena cerita Intana ini, sehingga aku lebih bersemangat menekuni bidang ini.

Lembar Harian Intana adalah sebuah cerita bersambung yang mengisahkan kisah hidupku. Setiap minggu rutin kutuliskan kisahnya, walau ada selingan cerita lain yang menjadi pelengkap blogku. Memang banyak orang yang tidak tahu itu adalah kisah nyata yang benar terjadi padaku. isinya berupa catatan harian seorang laki-laki yang menjalin kisah cinta dengan seorang wanita. Ya seperti catatan harian pada umumnya, kuceritakan tentang kisah mereka pada awal perjumpaannya, bagaimana laki-laki tersebut jatuh hati dan mengungkapkannya pada pujaan hatinya. Intana tokoh fiksi yang kuciptakan dalam cerita itu memang ada, dan tidak hanya pernah mengisi tulisanku tapi juga hidupku. kata “pernah” yang aku gunakan, bukan “sampai saat ini”. Oleh karena itu tulisan “Lembar Harian Intana” untuk sementara harus berhenti. Seperti aktivitasku berkutat di dunia maya yang membuatku harus berhenti untuk sejenak.

Mataku mulai lelah, ku tekan bagian atas hidungku sambil memejamkan mataku,sambil beberapa kali kukedipkan. Jam di pojok laptopku sudah menunjukkan pukul 02:11, memang kesibukan bisa melupakan waktu yang terus berjalan. Seperti kisahku yang tertulis dengan Intana tak terasa hampir 3 tahun saling mengenal, dan beberapa jam kami harus menerima takdir bahwa kita harus terpisahkan. Selama tiga tahun saling mengisi dengan kesibukan, mungkin terasa sebentar ketika aku tahu kami harus saling merelakan satu sama lain merasa kehilangan …….

****

“Aku hanya merasa nggak sanggup lagi baca ini, Bang.” Uni melipat sebuah kertas yang dipegangnya dengan mata berair.

“Ya hanya itu yang tersisa dari Abe, Un.” Laki-laki yang dipanggil Abang menatap Uni.

“Tulisannya mengenai kisah hidup kami sangat detail. Dia tetap menjadi dirinya dalam tulisan ini.” Mata Uni berkaca raut wajahnya tersenyum mengenang apa yang terjadi dengan pasangannya.

“Hehe yaa begitulah dia, Un. Dia tidak mau menjadi orang lain. Menurutnya ingatan manusia terbatas, jadi dia menuliskan kebahagiaannya bersamamu di blog itu. Dia ingin berbagi kesenangannya dengan orang lain.” Abang menjawabnya dengan bersandar pada tembok sementara Uni berada disampingnya.

“Hmm tapi kenapa, dia sempat berhenti untuk menuliskan kisah kami berdua Bang?” Uni bertanya dengan perasaan ingin tahu.

“Un, bukannya ku sudah bilang? Dia hanya ingin berbagi mengenai kebahagiannya bersamamu. Setelah tahu dia akan kehilanganmu….” Abang terdiam, dia menarik nafas dan melanjutkan “Abe tetap ingin menuliskannya, tapi dia tidak ingin karena tidak sanggup untuk melakukannya.”

Uni terisak, dia teringat akan suka duka bersama Abe yang berbentuk kertas di tangannya. “Aku merasa bersalah sama dia, Bang,” Uni menyeka tetesan air mata yang jatuh di pipinya, “bukan Abe yang kehilangan diriku. Tapi Aku yang kehilangan dirinya. Hanya bersisa kisah kami di lembaran ini bang” Uni tidak sanggup lagi untuk menahan air matanya.

“Ya begitulah, dia berusaha menyembunyikan kesedihannya. Abe bilang sempat hiatus selama beberapa waktu, hanya akal-akalan dia saja untuk melepas kesedihannya.” Abang berhenti sejenak untuk menenangkan Uni.. “ Abe menulis topik lain agar dia bisa melupakan semuanya, tapi setiap kali pengunjung bertanya kelanjutan cerita Intana? Kembali lagi dia teringat padamu.. tapi sepertinya dia tidak sanggup untuk melanjutkan lagi”

Uni semakin larut dalam kesedihan setelah semua yang terjadi padanya, “Abe… terimakasih untuk semuanya. Seandainya kamu bisa menerima kenyataan yang terjadi. Namun kamu malah paksa dirimu dengan penyakit yang kamu derita kamu tidak akan seperti ini…” Uni menatap tubuh seorang pria yang memucat dan terbujur kaku di hadapannya, ya dialah Abe yang sedang menjadi perbincangan mereka berdua.

“Un, nampaknya dia tahu hidupnya akan berakhir. Abe sudah menuliskan semacam kata terakhir di blognya, karena dia tidak akan melanjutkan tulisannya lagi. Ya walau banyak yang kecewa dengan keputusannya.” Abang memegang bahu Uni, yang sedang bersedih “Dia menuliskan, bahwa Blognya akan diberikan kepada seseorang. Dia ingin menutup blognya, namun malah Abe harus menutup usianya. Ini Un, alamat email dan passwordnya..” Abe memberikan secarik kertas berisi akun Blog Abe.

Uni menerimanya dan berkata, “rasanya aku tidak berhak apa-apa dengan blog tersebut Bang, aku pasrahkan saja padamu bang,” dengan terbata karena efek tangisannya, Uni mengembailkan kertas tersebut pada Abang.

“Yah baiklah kalau begitu,” Abang memasukkannya kedalam saku bajunya. “Aku harap kamu bisa mengenang apa yang dia tulis, atau malah kamu bisa melanjutkannya dengan kisah yang baru Un.”

“nggak Bang, rasanya aku tidak sanggup untuk mengingat kenangan yang kami alami. Lebih baik sembunyikan saja cerita yang Abe tulis Bang. Biar dia terkubur bersama penulisnya. Aku tidak sanggup jika ada yang bertanya kenapa dia tidak menulis lagi” Air mata Uni kembali menetes, dia membelai wajah pucat Abe.

“Ya sudah Un, semoga kamu bisa menerima semuanya. Sudah ya… ada aku akan selalu menjagamu Uni. Jangan pasang muka sedih lagi Un, mana mungkin di depan penghulu kamu akan begitu. Ayo Un, kita harus bersiap, nanti malam kan pernikahan kita.” Abang mengusap air mata Uni dan merangkulnya. Mereka meninggalkan ruangan tersebut, karena harus bersiap untuk menjalankan prosesi pernikahannya. Meninggalkan Abe seorang diri yang sudah tidak bernyawa.

Menghadapi tekanan dari kekasih yang akan meninggalkannya dan penyakit yang dia derita, membuat Abe tidak sanggup menghadapinya. Namun Tuhan lebih sayang pada Abe, dan keputusan yang tepat untuk menjemput ajalnya. Abe menemui Sang pemiliknya nyawa dan meninggalkan apa yang menjadi miliknya. Hanya tersisa sebuah blog tak bertuan, dengan postingan tersemat di awal halaman berjudul “sebuah kata terakhir seorang Abe” yang mengundang pertanyaan dan kekecewaan dari pengunjung blognya.

END

Maaf minggu kemaren saya gak nulis. Berusaha konsisten dalam seminggu untuk nge-post eh malah kayak gini. sekali lagi maaf yak, insya Allah rutin lagi setiap senin. Doakan ya 😀

 

 

Advertisements

10 thoughts on “[fiksi] Sebuah Blog Tak Bertuan

  1. wooo keren mase.
    tulisan mase makin meningkat.
    sebelumnya aku agak susah mengimajinasikan fiksi yg dibuat mase.
    tapi sekarang sudah bisa terbayang.

    cuman yang kurang menurutku dari pembentukan tokoh dan karakternya.

    tetep nulis ya mase. jangan kayak aku huhuhu XD
    ditunggu tulisan yg ciamik lainnya.
    semoga mase nulisnya konsisten juga hehe

    tapi apalah arti sebuah ila yg bisanya cuman komen.
    nulisnya juga ngga bagus huhu -_-

    1. wuu mesti merendah :3. aku suka nulis gara-gara kamu :D. ya semoga bisa nulis lagi gak cuma nulis koding ya ila chan 😀
      makasih yaaa buat semangatnya :*

  2. Gak ketebak banget sih ceritanya. Makin keren aja! Lanjutkan terus

    Btw, kirain abang itu kakaknya abe, ternyata calon suaminya Uni

    Ah bingung gue mah komen apaan 😆

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s