[fiksi] Sebungkus Sate

Ya ekonomi memang bisa merubah jalan hidup seseorang. Bahkan perilaku bisa terbentuk dari tingkat sosial dan kemapanan. Coba liat orang kaya hidupnya yang mewah seperti mudah mendapatkan segalanya. Sementara di pelosok negeri ada yang rela bertaruh nyawa,hanya untuk beberapa lembar rupiah. Ada ungkapan hidup seperti roda, kadang diatas dan dibawah. Sepertinya Barja mendapatkan giliran untuk berada di roda bagian bawah. Namun sepertinya roda kehidupan berputar lambat untuk Barja mencapai bagian atas. Dengan penghasilan sehari-hari hanya cukup untuk sebungkus nasi, tentu untuk menanggung nafkah seorang istri dan dua orang anak yang dimiliki, hidup sangat sulit bagi Barja.

Pendidikan hanya ditempuh sampai kelas 2 SMP, itupun belum tamat. Menjadi karyawan kantor tentu tidak bisa Barja lakukan, maka yang bisa dia lakukan hanya mencari rejeki sebagai pemulung. Mengais sisa-sisa milik orang yang tidak terpakai dan kemudian menukarkannya dengan beberapa lembar uang. Ya perjuangan Barja dengan segala resikonya tentu hasilnya tidak sepadan. Melawan panas terik, menghindari razia sudah menjadi bumbu tambahan dalam mendapat rejeki sehari-hari.

“Satu, dua, tiga, empat… Nih Ja, empat puluh ribu” Bos tempat Barja menyetorkan barang-barang bekas memberikan uang sesuai dengan hasil timbangan.

“Hmm, Alhamdulillah. Makasih pak” Barja mengambil uang tersebut dengan perasaan senang, karena tumben bisa dapat hasil yang lumayan hari ini.

Barja meninggalkan tempat penukaran barang rongsokan itu menuju warung makan sederhana dengan tembok bambu di sebelahnya. Sambil menaruh karung dia memesan beberapa menu. Hari sudah sore dan sepertinya dagangannya sudah hampir habis karena beberapa lauk yang terlihat sudah semakin sedikit. Selain itu kerupuk yang memenuhi blek juga tinggal beberapa biji. Hanya tersisa kerupuk yang terbungkus plastik dan tergantung di sebelah pintu masuk warung.

“buk, nasinya 3 pake tempe sama tahu ya. Sama ambil kerupuk lagi buk,” Barja menarik kerupuk di hadapannya. “bonus sayur juga ya buk” sambil menyeringai kepada penjual langganannya

“iya mas, tinggal sayur terong nih, coba agak siangan masih banyak.” Wanita tersebut menengok kearah Barja yang ada di luar. Dan Barja menangguk, kemudian sang penjual menuangkan sayur dan beberapa sendok kuah ke plastik pesanan Barja. “ini mas, semuanya 8000 sama kerupuknya.”

“ini Buk,”Barja menyodorkan uangnya.

Si Ibu penjual menerima uang barja dan membuka lacinya untuk mengambil selembar uang pecahan dua ribuan, “ini kembaliannya, Ja.”

“hmm makasih ya buk” Barja mengambil makanan dan sayuran yang terbungkus terpisah dan memasukkannya kedalam kantong plastik. Segera dia membereskan karung dengan menggulungnya kemudian dia beranjak pulang.

***

“waaah bapak pulaang… yeyeye” Nani anak tertua barja menyambutnya.

“hehe iya Nan, nih buat kamu. Adikmu Cahyo main ya? Bagi dua sama adikmu yaa!!” Barja menyerahkan bungkusan yang berisi nasi kepada anaknya.

“iya pak!” Nanipun menerimanya dan segera menemui adiknya di samping rumah.

Barjapun masuk kedalam rumah, yang bahkan tidak layak disebut rumah. bangungannya berdinding papan kayu bekas dengan atap bocor, penerangan seadaanya dan lingkungan yang kumuh. Tampak di dalam rumah Nuril istrinya beres-beres perabotan yang semuanya dari barang bekas.

“Nih Ril,uang dari hasil timbangan tadi.” Barja memberikan uang hasil jerih payahnya kepada istrinya,Nuril.

“Oh iya mas,” Nuril meraih uangnnya dan menghitungnya. “Ya lumayan sih mas, dibandingkan kemarin. Tapi kalau Cuma segini terus mana cukup buat kebutuhan sehari-hari?” Nada suara Nuril nampak ketus karena tidak puas dengan hasil kerja suaminya.

“yah mau gimana lagi Ril? Kalau aku karyawan boleh kamu berharap lebih” Barja menimpali dengan tenang, sambil duduk untuk meredam amarahnya.

“ya coba sana mas, cari kerja yang lebih layak?” Nuril menuju meja dan memegang nasi yang tersisa. “nasi yang ku masak hanya cukup sampai siang hari, sementara Mas cuma memberi makan kami beginian?” Sambil memegang nasi bungkus dan mengarahkannya kearah Barja.

“Ril!!! Stop jangan berteriak gitu. Memang itu nasi dengan lauk seadanya. Bersyukur dong, Ril” Barja masih berusaha tenang menanggapi istrinya.

“Bersyukur katamu mas? Aku lebih bersyukur kalau aku gak kawin sama kamu mas” Nuril geram dan mencampakkan makanan tersebut. “Lebih baik kamu kabulkan permintaanku untuk menceraikanku mas, biarkan aku mencari kerja jadi tkw, ikut agen yang datang tempo hari.”

Braaaakk!!!, Barja sudah geram dengan kelakuan Nuril, “Heiii!! Jangan seenaknya gitu lah!! Sudah berapa kali ku bilang? Kasihan anak-anak kalau kamu tinggal sendirian. Mereka masih terlalu kecil.”

“Terus aku harus bertahan dengan hidup gembel sama kamu mas!!?” Wajah Nuril memerah, matanya basah “Mas, aku hanya ingin hidup layak. Aku dengar banyak tetangga yang sukses kerja di luar sana”

“Ayolah Ril, Ingat anak-anak. Bertahanlah disini, aku mau cari kerja yang lebih baik buat keluarga ini, sambil jadi pemulung. Mungkin jaga toko atau apalah,” Barja memohon pada Nuril agar tak beranjak pergi.

“Nggak mas, sudah terlambat. Aku sudah mengemasi barang-barangku. Aku akan tetap pergi walau tanpa ijin kamu mas” Nuril menoleh kearah tas yang sudah berisi baju dan segala keperluannya.

Barja nampak bingung dengan tindakan istrinya. Dia tak tahu harus berbuat apa lagi. Pertengkaran ini memang menjadi hal yang biasa ketika Barja pulang kerja. Nuril sepertinya tidak tahan dengan kehidupannya. Namun dengan ijazah SD dan sulitnya mencari kerja, mendapatkan penghasilan yang layak tentu tidak mungkin bagi barja. Nuril hanya menjadi buruh cuci panggilan juga tidak cukup mengimbangi penghidupan di keluarganya, alhasil anak mereka putus sekolah. Bukan putus, bahkan belum mengenyam pendidikan satupun. Nuril tampaknya teguh dengan keputusannya. Dia sudah tidak mempedulikan suami dan anak-anaknya. Ya memang karena himpitan ekonomi dan urusan perut orang dapat berubah.

“Buk.. jangan pergi yaa?” Nani anak sulung mereka yang dari memperhatikan,merengek agar ibunya tidak beranjak.

Nuril tidak menggubrisnya, dia tetap akan berangkat “nggak nak, ibu sudah gak betah tinggal disini. Kamu sana adik sama bapakmu biar hidup susah.” Nurilpun menuju pintu untuk pergi.

“Ril, saya mohon tinggallah disini” Barja memegang tangan istirnya. “kalau kita sabar pasti ada hasilnya kok”

“Iyaa buk, jangan pergi” Nani memegang pinggang ibunya dan menangis.

“Sudaah lepaskan!!! Keputusanku sudah bulat, aku sudah nggak sanggup hidup seperti ini mas. Sudah cukup lama aku bersabar.” Nuril menepis tangan Barja dan menghentakkan badannya sehingga Nani terjatuh.

“Ril, Jangan kasar lah sama anakmu!!! Barja menenangkan Nani dan menatap tajam pada Nuril.

“Udah mas cukup, Nani sudah kamu sama bapakmu saja, Ibuk mau pergi dari sini!!! Anggap saja aku bukan ibumu!!”

“Ril, Jaga mulutmu!! Biar bagaimanapun dia tetap anakmu!!”

Nuril menunjuk suaminya dan kembali meluapkan emosinya “Terserah apa maumu mas, aku juga gak sudi punya suami sepertimu mas, aku menyesal!!!. Biarkan aku pergi mas!!” Dia mulai menangis, matanya sembab.

“Baik!! Aku turuti apa maumu, maaf aku jadi suami selama ini tidak becus. Mulai hari ini kamu juga bukan istriku!! Sana kalau mau pergi. Aku juga tidak tahan melihat kamu mengoceh ini itu.!!!” Dengan isyarat tangan Barja mengusir istrinya, ah bukan mantan istrinya Nuril.

“Oke ini yang aku tunggu dari dulu mas,” Braaak Nuril membanting pintu dan meninggalkan keluarganya, demi memenuhi keinginannya untuk menjadi lebih baik, katanya.

“Pak.. Ibuk kemana? Ibuk bakal balik lagi kan pak?” Nani menangis dalam dekapan ayahnya.

“Sudah jangan nangis lagi ya Nani sayang, ibuk mau pergi. Sepertinya dia gak akan balik ke rumah ini lagi” Barja mencium rambut anaknya dan meneteskan air mata.

Hari semakin gelap, karena pertengkaran itu Barja lupa menghidupkan lampu di rumah mereka. Dalam Gelap Barja masih menenangkan putrinya, sementara cahyo tertidur karena kelelahan bermain tadi bersama kakaknya. Entah apa perasaan Barja melihat tingkah laku Nuril. Dia pasrah ditinggal istrinya dan bertekad mengasuh anak-anaknya sendiri.

***

Keesokan harinya Barja  nampak pulang lebih awal. Suasana rumah tampak sepi,karena penghuninya berkurang satu. Ditinggal seseoang yang dicintai akan menimbukan rasa kehilangan, dan Barja juga mengalaminya. Namun nampaknya dia tidak menunjukkan hal tersebut kepada anak-anaknya. Barja berusaha tegar menghadapinya.

“Nani, Cahyoo!! Bapak pulang, sini Naak!!!”

“Yee bapak pulang,” Cahyo si anak bungsu menyambut bapaknya dengan manja.

“Hehee iyaa, eh sekarang kalian makannya pakai sate looh. Bosen kan pake tempe tahu terus” Barja memberikan bungkusan,terlihat tusuk sate dibagian luarnya “nih bagi dua lagi ya, jangan ribut”

“waaaah, udah lama gak makan beginian yaa pak” Tangan Nani meraih bungkusan itu, nampak beberapa puluh tusuk dengan aroma bumbu kacang. Tentu akan sangat menggiurkan anak-anak Barja. “Yoo,enak nih ayo kita santap.” Nani mengajak Cahyo untuk makan. Sang kakak sudah mencicipi satu tusuk. “Ayo pak? Makan juga!!” tangan Nani menawarkan sate kepada bapaknya.

“Ah gak wes, Bapak masih kenyang. Bapak masuk dulu yaa. Abis makan janga lupa diberesin ya”

“Hmm okee pak. Coba ada ibuk di rumah ya pak,” Cahyo mengoceh dengan mulut penuh sate.

“udah kalau makan jangan bicara nanti keselek”

Barjapun masuk kedalam rumah dengan meneteng karungnya. Dia masuk ke kamar dan segera berbaring di kasur dan melirik foto dirinya bersama Nuril berpose pengantin duduk di pelaminan. Walau dengan dandanan sederhana mereka tampak serasi. Tak terasa air matanya menetes sambil memegang figura fotonya.

“Ril, kenapa kamu pergi sih walau aku pemulung, aku bisa buat kalian bahagia kok . Lihat Nani dan Cahyo seneng makan satenya, katanya aku cuma bisa beliin mereka tempe tahu. Coba kamu ada disini.” Sambil tersenyum Barja mengusap wajah Nuril di foto tersebut. “ah nampaknya tidak mungkin. Kamu sudah pergi, sekarang kamu sudah jadi santapan mereka. Daripada mayatmu ketahuan polisi, mending kuolah saja dirimu.”

Barja bangun dari ranjang dan membuka karung yang dibawanya. Nampak lalat berterbangan ketika karung tersebut dibuka ikatannya.

“Ril, maaf ya aku khilaf sampai harus menghabisimu tadi malam. Tapi tubuhmu bisa jadi cadangan makanan buat anak-anak kita untuk beberapa minggu.” Barja menyengir melihat potongang tubuh Nuril.

Barjapun menutup kembali karung itu, kemudan menyimpannya di tempat yang aman. Dia keluar dari kamar untuk menemui anak-anaknya.

END

 Hohoh maaf ya senin minggu lalu,saya gak nulis di blog ini. Ada keperluan lain sih. tapi Insya Allah bakal rutin kok :3. Semoga suka sama ceritanya ya 😀

 

Advertisements

14 thoughts on “[fiksi] Sebungkus Sate

  1. Roda kehidupan manusia terus berputar, sayangnya ada yang lambat dan ada yang cepat, sehingga ada yang merasakan penderitaan sepanjang hidupnya

      1. iya mual, masak makan daging ibunya.. udah dikerubungin lalat pula.. hueek -____- amit amit *pegang perut

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s