[fiksi] Sebuah Cermin Di Perpustakaan

Sungguh pamandangan yang asing, melihat mahasiswa yang hampir 8 semester tidak masuk pernah masuk perpus sekarang rajin dan (terpaksa) betah di dalam perpustakaan kampus. Yah kalau bukan karena Skripsi yang menjadi tanggungan tentu hal ini tidak akan aku lakukan. Selama kuliah ke perpus hanya numpang lewat dan Cuma mengintip dari jendela kaca berwarna hitam dengan terlalis di dalamnya. Sekarang hampir setiap hari seakan bersemedi di dalamnya. Dan hanya keluar saat perut meronta meminta haknya. Untung di kampusku perpustakaannya buka sampai malam, jadi bisa berlama-lama tanpa harus takut diusir petugas. Malah karena sering berkunjung sekarang aku semakin akrab dengan penghuni perpustakaan di kampusku ini.

Hampir 2 bulan ku coba mengakrabkan diri dengan suasan perpustakaan ini. buku-bukunya lumayan banyak terata rapi di rak-rak yang kokoh berdiri di sisi bangunan yang berwarna kuning kecoklatan ini. Bermacam jurnal dan majalah juga berjejer rapi di sebuah lemari kaca tembus pandang. Ya memang beberapa buku tidak bisa dibaca bebas tanpa seijin petugas. Dan sekarang di mejaku tertumpuk beberapa buku pemrograman dan beberapa skripsi milik kakak angkatanku yang ku pelajari sambil memainkan laptop yang menyala di hadapanku. Seandainya buku ini sebuah hidangan, aku sudah kekenyangan melahapnya. Di belakang tempat aku duduk ada sebuah lemari yang nampak berbeda dengan lemari lain, ya hanya lemari ini yang memiliki cermin seperti lemari baju. Pernah aku melihat isi di dalamnya. Ya lemari ini menyimpan novel-novel tua yang akupun tidak berminat untuk membacanya.

“Mas Siro.. sudah jam sebelas kurang nih, bentar lagi mau tutup nih, mbak Inggar juga yaa, sudah mau tutup nih” Seru petugas yang berjaga malam ini membuatku harus berhenti sejenak menikmati “hidangan”-ku malam ini.

“Oke pak” Aku menanggapinya santai karena sudah akrab dengan beliau. Buku dan laporan skripsku segera ku bereskan dan beberapa ku kembalikan ke tempatnya.

Tampak gadis yang dipanggil Inggar membereskan beberapa buku seperti yang aku lakukan. Aku berjalan ke arah rak buku komputer untuk menaruh buku yang aku baca, sementara Inggar tepat di sebelah kananku mengembalikan buku tepat di rak buku “Manajemen & Bisnis”. Ku menoleh ke arahnya.

“Aah tumben cewek pulang malam nih, gak ditutup kosannya ya, mbak sapa tadi dah? Mbak inggar” Aku canggung membuka suara, kebiasaanku yang sok kenal dengan orang lain sepertinya kumat malam ini.

“Yee gak tumben kok, tiap malam aku kesini kok, biasalah tugas skripsi. Kamu sih sibuk terus di depan laptopmu jadi gak peduli sama sekitarmu” Inggar selesai meletakkan bukunya dan melanjutkan “Jangan panggil mbak laah, kita kan seumuran, duh sapa namamu dah Ro.. Maro sapa dah?”

“Siro, mbak. Eh salah maksudku Inggar, gak enak tapi manggilnya, hehe” aku bersandar pada rak buku dengan Inggar di sebelahku.

“Hehe iyaa lucu… hm belum terbiasa manggil soalnya ya Ro” dia menanggapi diriku dengan senyum simpul di wajahnya.

“Hehe ya mungkin ya Gar, eh ayo balik tuh penjaganya juga mau pulang kasihan dari tadi nungguin”

“Okee. Yuk cap cuss”

Inggar berjalan menuju loker sambil meneteng laptopnya sambil aku mengikut langkahnya dari belakang. Kamipun menyerahkan kartu yang bertuliskan nomer tempat tas kami diletakkan.

“Makasih ya pak, saya balik dulu” kumasukkan laptopku ke dalam tas dan segera menggendongnya. “Hmm Inggar balik sama siapa ya? Mau ku anter ta?”

Inggar mengambil tas dari meja penjaga dan juga memasukkan laptop dan buku miliknya. “Ah gak usah Ro, makasih. Aku kan gak ngekost, tidur di asrama. Tinggal jalan kan.

“Hm iya wes, aku duluan yaa” Aku beranjak dari hadapannya menuju parkiran tempat motorku yang sudah menunggu.

Inggar meninggalkan perpustakaan dan berjalan ke arah asrama yang ada di tengah-tengan kampus kami.

***

“Hmm sini coba liat gar?” Aku mencoba mengutak-atik laptop inggar, dia mengeluh karena laptopnya berjalan lambat. Masalah klasik kalau benda kotak mirip tv ini, jika di tangan perempuan. “Kayaknya laptopmu lupa kamu update anti virus nih, terus banyak aplikasi gak penting nih” Benarkan, masalahnya juga selalu sama.

“Duh, gak ngerti aku Ro, coba benerin dah. Terserah mau diapain. Yang penting bisa enak lagi. Bikin galau nih laptop” Inggar sedikit panik dan bingung. Sepertinya dia pasrah.

“Iya iya sek sek.” Beruntung koneksi kampus sedang bersahabat, jadi cukup beberapa menit anti viruspun diperbarui versinya. “Tinggal hapus aplikasi terus di restart dah ini, Gar”

“Hohoho sip sip” sambil mengacungkan jempol di hadapanku “ makasih ya, lain kali kalau ada masalah benerin lagi ya?”

“Hmm iyaa bayar tapi ya hehe” Aku menjawabnya namun mataku masih tertuju pada monitor menunggu hasilnya.

“Aah kamu Ro, temen sendiri loh”

“Iya Gar, bercanda loh, ini laptopmu sudah kelar kayaknya” sambil menunjukkan laptopnya dan sepertinya sudah agak mendingan

“Hehe thanks yak, sekarang saatnya garap tanggungan kita,Ro. Cepet selesai, cepet ujian, cepet wisuda. Aamiin”

“Hehe Aamiin… iya,Gar. Bosen lama-lama di kampus ya, sudah tua.” Aku membuka buku dan membuka berkas aplikasi di laptopku.

Sudah tingga minggu sejak aku bertemu dengan Inggar, dan kami sekarang sudah akrab. Padahal hampir 4 tahun di kampus yang sama tapi belum pernah kenal atau bahkan bertemu sebelumnya. Untungnya dia ramah dan cepat akrab dengan orang lain. Sebelumnya aku yang sibuk sendiri dengan urusanku. Sementara inggar duduk di belakangku dengan setumpuk buku dan kalkulator serta beberapa kertas yang menjadi pendampingnya. Dan sekarang dia pindah dari tempatnya dan setiap kali ke perpustakaan dia duduk di sebelahku.

Sempat beberapa kali aku menoleh ke arah Inggar di tengah-tengah aku asik menyelesaikan skripsiku. Lucu sih saat dia sibuk menandai beberapa paragrah yang akan dimasukkan ke pembahasan skripsinya. Aku rasa Inggar tidak sadar beberapa kali aku perhatikan.

“Heii ngeliatin aku yaa, sudah urus aja programmu. Tuh banyak tanda serunya hehe.” Inggar membuyarkan lamunanku dengan menyindir programku yang masih error disana sini, dan sepertinya dia sadar aku liatin dari tadi.

“Hehe iyaa nih, sek bingung lanjutinnya,Gar. Dosene banyak maunya juga huft” sambil mengusap dahiku karena bingung dengan pekerjaan yang ada di laptopku.

“Hehe Anda belum beruntung berarti ya, dapat dosen yang banyak maunya. Sama berarti”

“Wooo, ternyata kamu juga, ya wes saatnya bertempur kembali” Kemudian aku melanjutkan pekerjaanku dan Inggar kembali melanjutkan pembahasannya.

Ya seperti ini setiap malam yang kami lakukan. Kebersamaan aku dan Inggar berakhir ketika petugas menegur kami yang selalu lupa waktu, untuk segera meninggalkan perpustakaan ini. Kejadian terus berlanjut, dan kadang ketika bercengkrama dengan Inggar dadaku serasa berdegup kencang. Memandang wajahnyapun merinding dan gemetar, bukan perasaan takut. Aneh memang dan aku tidak tahu perasaan apa ini. Tapi yang pasti aku seperti nyaman berada di dekatnya. Untunglah google menjadi sahabat setia seorang anak TI sepertiku. Dan jawaban dari mbah google cukup mengejutkanku, ternyata perasaanku terhadap Inggar adalah tanda kalau aku suka terhadapnya.

Hmm memang sepertinya aku harus membenarkan dari jawaban mbah google. Tapi daripada aku menuruti perasaanku dulu sebaiknya menyelesaikan skripsiku yang jauh lebih penting. Biar waktu yang menunjukkan bagaimana nanti perasaanku kepada Inggar. Kalaupun terus tumbuh akupun tak tahu apa aku harus mengutarakan atau terus memendam perasaan ini kepadanya. Tapi inggar jangan sampai tahu dulu kalau aku menyimpan rasa kepadanya. Tunggu saat yang tepat sajalah.

***

“Saudara Siro, setelah menimbang hasil pemaparan saudara, dan menganalisa laporan yang Anda buat, maka dengan ini saya nyatakan, Saudara lulus…….”

Masih teringiang suara dosen pembimbing yang didampingi dosen penguji di ruang ujian membacakan hasil sidang skripsiku. Waah kalau diingat lagi, kejadian itu benar-benar tidak bisa dilupakan. Beberapa bulan begadang, mencari refrensi dan literatur. Keluar masuk perpustakaan sampai malam. Akhirnya akupun menyelesaikan skripsiku. Walaupun ada beberapa revisi yang tidak luput dari pengamatan dosen, tapi yang pasti semua sudah ku lalui. Sekarang laporan skripsiku sudah ku bendel beberapa jilid dan berada di tanganku. Dua ukuran besar untuk perpustakaan dan Jurusan, tiga ukuran kecil untuk dua dosen pengujiku dan satu untuk dosen pembimbingku. Namun aku menjilid satu lagi ukuran kecil untuk kuberikan pada seseorang, Inggar. Sebagai tanda perasaanku padanya. Ah tapi kalau dia ada, karena kami tidak akan bertemu lagi.

“Tanda tangan disini, Ro” Petugas perpustakaan mengagetkanku,

“Duh, kaget pak, iya Pak. Ini laporannya pak”

“Ah satu yang besar aja, yang kecil gak usah” petugas tersebut mengembalikan laporan skripsiku yang berukuran kecil.

“Ah biar pak, buat kenang-kenangan, taruh di lemari dalam lemari yang ada cerminnya itu ya pak”

“hmm kamu ini, kalau kesini lagi jangan sampai malam ya. Tiap malam mesti ngomong sendiri di depan cermin itu, dasar aneh” petugas menunjuk sebuah lemari tua dengan cermin yang aku maksud di pojok ruangan tempat aku biasa menyelesaikan skripsiku.

“hehe iyaa pak, lagian bentar lagi saya gak akan kesini lagi kan pak.”

Aku berlalu dari hadapan petugas itu dan segera masuk kedalam perpustakaan, dan akhirnya aku berdiri di dekat meja sebelah lemari yang ditunjuk petugas tadi. Memang orang lain akan merasa aneh ketika melihatku berbicara sendiri di depan cermin, karena mereka tidak tahu apa yang ada di hadapanku saat aku berdiri di depan cermin ini. Bukan bayanganku yang muncul di hadapanku, tapi sosok lain, ya Inggar lah sosok itu.

“Hehe lain kali kalau ke kampus jangan lupa ke perpus ya, Ro” Inggar di balik cermin itu menyapaku sepertinya dia tahu aku akan berpisah dengannya.

“Pasti itu, Gar. Kamu baik-baik disini ya. Jangan ganggu orang-orang yang baca disini, biar mereka betah.” Aku tersenyum kepadanya, aku gak merasa aneh ketika aku berbicara dengannya yang berada di dalam cermin. Tapi yang aneh adalah kenapa aku suka kepada bayangan di cermin hasil imajinasiku sendiri.

“Yups, lagian yang bisa melihatku kan cuma kamu. Ya iyalah, kan aku ini adalah kamu. Aku ada karena kamu yang menciptakanku” Wajah inggar tersenyum lebar, memang cantik wajahnya dengan  kulit putih dan rambut panjang yang bergelombang.

Ku acungkan jempol kepadanya “Ehhe sip jangan lupain aku yaa, tapi gak mungkin ya. Aku yang menciptakan kamu, kamu kan imajinasiku. Dan sempet heran aku bisa suka sama kamu, hehe”

“Hehe kamu sih kebawa perasaan, udah katanya kamu ada janji dengan temen-temenmu”

“Hehe oke,Bye Inggar makasih buat semuanya ya.”

Aku berlalu dari perpustakaan kampusku. Sepertinya tadi waktu terakhir aku bertemu dengan Inggar. Walaupun tidak nyata, tapi dia ada. Karena Inggar aku semangat menyelesaikan studiku. Tiap malam saat penghuni perpustakaan tinggal aku sendiri dan merasa kesepian. Inggar selalu ada untuk sekedar menemaniku. Entah inggar yang keluar dari cermin atau aku yang masuk ke dunianya. Yang pasti terimakasih Inggar, kamu akan selalu ada di pikiranku. Karena kamu adalah aku, kamu adalah imajinasiku.

END

Advertisements

16 thoughts on “[fiksi] Sebuah Cermin Di Perpustakaan

  1. Kuampreet..

    Ketika baca endingnya, kok ada yang aneh. Jadi Inggar itu hanya imajinasi ya. Keren nih alurnya, bahasanya juga santai mudah dimengerti.

    Tapi kalo bisa setelah ” dibuat huruf besar. misalnya “Hehe kamu sih kebawa perasaan, udah katanya kamu ada janji dengan temen-temenmu”.

  2. Halo, ceritanya menarik, saya cukup suka sama yang berbau misteri 😀
    kritiknya mungkin soal kerapian aja..
    kayak yang komen sebelumnya, soal penulisan.

    Misal: “duh, kaget pak, iya Pak. Ini laporannya pak”
    Baiknya begini:
    “Duh, kaget, Pak. Iya, Pak. Ini laporannya, Pak.” <<titik dalam tanda petik
    atau "Duh, kaget, Pak. Iya, Pak. Ini laporannya, Pak," ujarku. <<pake koma sebelum tanda petik karena diteruskan oleh 'ujarku'.

    Mari sama-sama belajar, saya juga masih belajar EYD.

    1. hehe iyaa, kalau di percakapan huruf besar atau tanda baca masih sering terlewat buat di sunting hehe
      makasih sarannya yaa. EYD penting banget ya biar enak dibaca dan dipandang 😀

      makasih yaaa

  3. Ternyata sosok inggar cuma imajinasi ya, terus bapak petugasnya manggil siapa? Laptop siapa yg siro betulkan? 😮
    Maaf jadi terlalu kritis 😀 tp tetep asik dibaca ceritanya

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s