[fiksi] Lantunan Yang Lebih Merdu

“Baron.. Baron.. Baroon” orang-orang berseru meneriakkan namanya, mulai dari pelajar remaja, mahasiswa, dan ibu-ibu pkk. bahkan di bawah panggung ada tukang siomay yang juga meneriakkan namanya, soalnya dia masih belum bayar hutang siomay 3 bungkus, Hm Baron..Baron. Ya, dia dielu-elukan namanya setelah menyelesaikan konser tunggalnya,walaupun gak tunggal-tungal amat pas penampilannya sih. Soalnya ada musik pengiringnya kan, jadi di panggung dia gak sendirian.

Memang beginilah seorang baron, sebagai penyanyi terkenal dia sungguh dipuja oleh banyak orang karena karyanya. Albumnya laris di toko-toko kaset dan videonya di youtube sudah ditonton lebih dari milyaran orang dengan dislike lebih dari 90%. Walaupun dia penyanyi yang berbakat, tabiatnya memang aneh. Saat jumpa fans dia lebih sering ngupil sambil menjawab pertanyaan penggemarnya. Ya baron memang suka seenaknya, bahkan dia gak hanya suka ngutang ke tukang siomay, tapi ke tukang makanan yang lain. Untungnya bukan tukang bangunan dan tukang santet.

“fiuuh orang-orang tadi sungguh primitif kelakuannya yah” sambil berjalan baron memainkan jari di hidungnya. tapi jari yang dipakai adalah jari manajernya.

“ah kamu jangan gitulah bar” Jeki,sang manajer mengikuti langkah kaki baron dengan jari yang masih hinggap di hidung baron. “tanpa mereka,kamu bukan apa-apa kan”

“alaah, aku begini kan karena mereka suka karyaku,hohoho” baron menyeringai, sambil melepas jari Jeki yang sebelumnya dijilat untuk dirasakan upilnya. Kemudian masuk ke ruang ganti.

Tampak baron langsung terjun ke kursi warna abu-abu,tentu saja tanpa parasut ya. Soalnya jaraknya hanya beberapa langkah, gak sejauh kita menatap masa lalu yang baru saja terjadi dengan begitu pedihnya L.(cerpen ini bercampu dengan ratapan penulis di dalamnya).

“oke, Baron, tour ke-232 sudah selesai. Bersiap-siaplah untuk pertunjukan berikutnya.” Jeki melihat daftar tempat yang selanjutnya untuk dikunjungi pada gulungan kertas. Hmm kok mirip jaman kerajaan ya?

“Huh, kamu ini Jek!! Aku baru saja duduk, minumanku baru ku teguk setetes, kamu sudah bicara tentang kerjaan” Baron membenarkan duduknya dan meletakkan gelasnya yang memang minumannya tinggal setetes. Itupun minuman sisa kemaren.

“lah gimana sih kamu, ini kan pekerjaanmu”

“tapi aku kan bukan robot. Walaupun robot masih bisa dicharger atau pakai power bank. Lah aku mau ditancepin dimana kalau aku capek? Di pantat?” Baron menaikkan kakinya ke atas meja,sambil pamer sepatu hasil utangan lagi.

“yaa terserah kamu aja Bar, sekarang mau kamu apa” Jeki menimpali Baron sambil menggulung kembali kertas tour Konser majikannya.

“sekarang aku mau bersenang-senang ke diskotik dong, bosen nongkrong di warung cilok sebelah kosan” Baron merubah posisi duduknya, kedua kakinya sekarang menempel di lehernya. Seperti pemain sirkus aja.

Jeki hanya menggeleng-geleng kepala dengan tangan dipinggang, gayanya sudah seperti instruktur senam. Padahal dia hanya heran dengan tingkah laku baron yang selalu saja seenaknya. Ya karena jabatannya hanya sebagai manajer dia gak mampu berbuat apa-apa. Hanya bisa menurut saja, walau hatinya sangat memendam rasa kepada Baron. Rasa dongkol maksudnya, karena Jeki masih laki-laki normal. Karena Jeki sering dibuat kesal oleh tingkah Baron yang seenaknya.

Rasanya seperti menyesal Jeki memungut Baron dari jalanan dan melambungkan namanya. Dulu merasa iba melihat Baron di jalanan makan nasi beserta bungkusnya hasil mengamen di terminal. Tapi setelah namanya terkenal Baron seperti tidak tahu diri. Jauh dari kasih sayang orang tua, dan kerasnya jalanan baron seakan tidak bisa berubah, tetap saja liar. Ya si Jeki yang kesal tak tahu bagaimana meluapkannya agara Baron bisa jera dengan kelakuannya. Mungkin waktu yang bisa menjawabnya (eaaa).

******

 

Deru suara musik sangat keras, sehingga membuat pengunjung berteriak untuk bicara. Seperti orang tengkar teriak-teriak, padahal yang diomongin hanya hasil arisan kemarin sore. Namun alunan lagu yang dimainkan membuat baron semakin menggila menikmati irama musik sambil menari ular, tapi dia gak bawa ular, takut dipatok mungkin ya. Baron memang menggila tapi seisi diskotik cuek-cuek saja dengan tingkahnya. Maklum era teknologi, orang-orang sibuk dengan gadget masing-masing. Jadi yang menggila hanya baron seorang, dia guling-guling kayak cacing kesurupan. Setan macam apa tapi yang bisa merasuki tubuh cacing ya?

Mungkin agak kelelahan, dengan keringat mengucur dari kulitnya baron agak mereda, bau asem sudah menyeruap dari tubuhnya. Baron berjalan dari lantai dansa menuju meja yang telah dipesan, sambil menjilat-jilat keringat yang ada di tangannya. Lantas dia duduk menyeruput minuman yang ada di hadapannya, sedangkan Jeki asik bermain dengan cabe-cabean yang juga berkunjung ke diskotik itu.

“wuiih cakep bener ceweknya,Jek. Sini bagilah jangan diembat sendiri” tangan Baron berusaha meraih cabe-cabean yang lagi asik main colek-colekan dengan Jeki. Iya mereka sudah membawa sabun colek dari rumah.

“aah enak aja, sana cari sendiri. Ternyata kamu doyan cewek juga yaa.”setengah mabuk akibat es teh dicampur sabun cuci, Jeki menepis tangan baron.

“hihhihihi orang itu lucu yaa bang Jek.” Si cabe tersipu malu karena melihat tingkah baron.

“huh lucu darimananya, pengaruh alkohol tuh, liat bukan lucu itu, tapi edan” Jeki merangkul bahu cewek itu sambil melihat Baron guling-guling diatas kursi.

“hohoho sini dong,main sama om. Jangan sama Jeki, bau tengik diaa” Baron meracau yang guling-gulingnya pindah ke lantai. Dia masih saja menggoda cabe-cabean itu. maklum minuman keras dapat melupakan segalanya.

“ahh lama-lama disini, kita bisa ketularan gila kayak baron. Yuks beb kita jajan cilok” Jeki sempoyongan membawa remaja cabe itu keluar dari diskotik, meninggalkan baron yang tidak lagi guling-guling. Tapi merayap kayak ular sanca.

Jam seperti berputar cepat malam itu, Baron semakin mabuk dan menggila. Menikmati malam itu, sejenak melupakan urusan pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya. Pengaruh alkohol dari sabun pel yang dicampur minuman membuat Baron terbuai dan kepalanya semakin berat. Baron pun pingsan dengan mulut penuh Busa. Wah ternyata Baron keracunan minuman yang dipolosnya. Tubuhnya mengejang seperti tersengat listrik, dan cukup beberapa saat Baron pun tepar di lantai dengan gelas bertaburan di sekitarnya. Jeki sepertinya mencampur sesuatu yang membuat Baron seperti itu.

***

Wangi aroma pengharum ruangan semerbak menyebar di sebuah kamar rumah sakit, suasanya tenang. Bahkan suara burung berkicau terdengar di pepohonan rumah sakit itu. sungguh sayang untuk dilewatkan, nampak suster berjalan di koridor untuk mengecek pasien dengan ramah dia menyapa ornag yang lewat. Pasien nampak senyum-senyum ada yang kegirangan dan bermain-main dengan beberapa perawat

“TIDAAAAAKKKKKKK!!!!  Keluarkan saya dari tempat ini” Suara teriakan ini berasal dari sebuah kamar. Yaa ternyata rumah sakit jiwa tidak selamanya tenang ya. Dan suara itu adalah suara baron yang mengamuk karena menjadi penghuni rumah sakit jiwa ini.

Baron tidak lagi konser di atas panggung, sekarang dia hanya bisa mengamuk di rumah sakit jiwa. Jeki menjebaknya setelah dia pergi dari diskotik meninggalkan Baron yang terkapar di lantai. Ya Jeki menelpon pihak Rumah sakit dan mengatakan Baron mengalami gangguan kejiwaan. Sekarang karir Baron hancur para fans yang mengidolakannya pergi meninggalkannya. Ya mungkin ini karma akibat kelakuan Baron yang seenaknya. Tapi jeki sepertinya sedikit keterlaluan. Dia membawa semua uang hasil konser untuk dirinya sendiri, tanpa menyisakan sepeserpun untuk Baron.

“tenang ya mas.. tenang” suster berusaha memegang tangan baron yang mengamuk. Dokterpun mengambil suntikan penenang agar Baron tidak menggila.

“Sus.. saya mohon, saya waras sus, tidak gilaa”Baron meratap nanar dan berusaha berontak.

“cup cup tenang ya, gak sakit kok suntikannya.” Dokter mengusap lengan baron, dan menancapkan jarumnya.

“SUUUUUUSSS ARGHHHHHH……….” Baron langsung lemas, badannya langsung lunglai. Tim medis pun membaringkannya di tempat tidur.

“Fiuuh orang ini memang nyusahin.. ngaku-ngaku waras, semua pasien disini juga ngaku waras” Suster yang dongkol karena badannya sakit semua akibat ulah Baron.

“Iya dulu aku penggemarnya ketika dia masih terkenal, eh sekarang udah gila malah bikin onar” tim perawat mengambil sabuk untuk mengikat baron. “suster ikat dia yang kenceng ya, biar pas bangun gak ngamuk lagi”

“siap bos”

Baron pun ditinggalkan dalam keadaan tertidur dan terikat kuat. Hmm kasihan kamu, aku sebagai penulis juga tak mampu berbuat apa-apa(lebay ah).

***

Sayup-sayup terdengar suara merdu dari perawat tua, dia sambil melantunkan sesuatu yang sanggup membuat orang yang mendengarnya merasa tentram. Baron yang tadinya tertidur nampak membuka kelopak matanya perlahan-lahan. Tubuhnya masih terikat karena para petugas rumah sakit kalau dia akan mengamuk lagi.

“Buk, itu lagu apa ya? Kok enak banget. Ibu lipsing ya?” Baron membuka suara melihat seorang perawat tua disampingnya.

“hmm Bar.. Bar tak tutuk kamu ya. Di ktp kamu islam tapi kok belum pernah dengan orang ngaji sih?” wanita itu menutup Al Qur’annya. Dan menatap Baron. “lagu yang biasa kamu nyanyikan gak akan ada tandingannya dengan yang barusan ibu baca.”

“weeh iya buk. Ibuk ini penyanyi yaa?, bikin band yuk buk”Baron menjawab seenak jidatnya, kebiasaan lama yang gak bisa dihilangkan rupanya.

“Bar… bar, kamu bener-bener ya. Ibu tau kamu gak gila, tapi lama-lama disini kamu bisa ketularan ya. Jangan samain orang nyanyi sama orang ngaji jelas bedanya.” Ibu itu berdiri dan mengisi cek list daftar pasien yang sudah dia kunjungi. “Lihat kamu jauh dari Tuhan, dan sekarang Dia negur kamu lewat masalah yang kamu alami.” Wanita itu menunjuk ke atas dengan telunjuknya “Yang ibu baca tadi surat Al Insyirah, cocok dengan masalah yang kamu alami.”

“emang apa artinya tadi buk? Soalnya bukan bahasa Indonesia sih”

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

Air mata Baron menetes mengalir ke pipinya “buk dalem banget artinya buk,sepertinya saya goblok dan gak tau apa yang saya lakukan,” Baron terisak sambil mengeluarkan ingus dan belepotan di wajahnya.

Perawat tua itu mengelap ingus di wajah baron tanpa sedikitpun jijik, ya maklum pengalaman. “nah makanya, mungkin kamu punya fans yang setia. Tapi namanya manusia bisa berubah-ubah. Tapi liat Tuhanmu sudah ngingetin. Dia gak akan ninggalin kamu, Dia yang selalu setia sama kamu” sambil memeras sapu tangan penuh ingus Baron.

“iya buk, nampaknya jalan yang saya tempuh salah. Ajarin saya lebih banyak lagi dong buk” wajah Baron berubah dan seakan bersemangat lagi. (cepet banget ya, penulis saja juga kaget)

“iyaa tenang, tiap rabu malam ada pengajian di musholla kok, kamu bisa ikut. Iurannya Cuma sejuta sebulan,ada arisanya juga” naluri ibu-ibu dari perawat tua itu lantas muncul

Baron terkaget, dari mana dia dapat uang, sementara Jeki sudah membawa kabur kekayaannya “Hah, yang bener bu?” dengan ekspresi heran, ingin berontak tapi tubuhnya masih terikat.

“alaah, gak kok itu yang arisan beda lagi, pengajiannya gratis, hohoho” perawat tua itu tersenyum dan meninggalkan baron yang senyum lega. Karena kesempatan untuk berbuat lebih baik masih ada.

“oke buuuk, muu’chii yaa” tangannya ingin melambai tapi apa daya tubuhnya masih gak bisa berkutik

 

END

Absurd kan? Iyalah!! Tulisan ini Cuma sebagai pembelajaran kok 😀

semua berasal dari postingan  ini by @Shitlicous dan saya dapat kata : menyanyi,buku, dan setia

 

 

Advertisements

13 thoughts on “[fiksi] Lantunan Yang Lebih Merdu

  1. dari gue ngerutin dahi, datar, narik bibir, ngulum senyum sampe bernapas laga, akhirnya Baron… … fiuhhhh….
    mantap. eh, absurd kayaknya lebih tepat :p

  2. sambil berjalan baron memainkan jari di hidungnya. tapi jari yang dipakai adalah jari manajernya. (aku crack ketawa pas ini. astaga imajinasimu liar mase XD)
    baron njijiki ee. mosok di jilat jari manajernya -_-
    sakjane aku mbayangne mas siro ngene ndek mbak gane. haha

    komentarku… aku salah fokus.
    aku kalo baca cerita fiksi normal (karena harus aku akui ini adalah fiksi yg jauh dari kata normal) aku bisa mengimajinasikan dan bahkan bisa menalar alur cerita dan memang begitulah seharusnya fiksi menuntun si pembaca tapi tidak dengan ini.
    Aku ngga tau ini ceritanya si tokoh karakternya gimana dan mau ngapain karena aku terlalu terpukau dengan berbagai komedi si author yg di tuangkan disegala pojok kalimat dengan berbagai diksi.
    saranku sih… humornya cukup dimasukkan di percakapan mereka dan bisa ada di kalimat2 tanpa mengurangi alur cerita itu sendiri, kecuali cerita ini tujuannya emang di buat absurd.
    puuh utekku ngga nutut moco iki mase. wkwkwkwk

    itulah.. singkat cerita dari saya. hohoho
    cacing kesurupan XD wkwkwk random benget kamu mase!!

    nb: aku gak baca sampe selesai. aku gak tahan sama ceritanya XD 😛
    imajinasiku ngga nyampe. wkwk

  3. tingkah lakunya si baron absurd gak ketulungan hahaha
    dari awal2 udah curiga, ini fiksi absurd, gila tapi lucu. ternyata bener pake tips nulisnya bang alit 😀
    gue mau coba ah kapan2

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s