Keseruan Semasa Kecil

tanpa smartphone,laptop,game. tapi lihat wajah mereka
tanpa smartphone,laptop,game. tapi lihat wajah mereka

Masa kecil saya dulu sangat indah. Bukan hanya keseruan yang ada di dalamnya. Bahkan juga kekonyolan yang sampai sekarang saya gak ngerti. Kalau diingat kembali jadi ketawa sendiri dan dalam hati bergumam “ dulu aku kok gitu ya? :D”. Ingin kembali ke masa tersebut tapi gak mungkin karena laci meja saya gak ada mesin waktu kayak punya Nobita. Ya akhirnya cuma bisa mengenang lewat tulisan. Mungkin kalian yang baca ini pernah mengalami dengan apa yang saya tulis. Kemudian dalam hati bergumam “ dulu aku kok gitu ya? :D” juga.

Saling ejek dengan nyebut nama orang tua

Ini yang gak saya pahami, entah kenapa waktu kecil ketika tengkar dan saling ejek dengan nyebut nama orang tua emosi seperti meledak-ledak. Lagian motivasi harus nyebut nama orang tua itu apa sih ya? Hal ini masih menjadi perdebatan antara ilmuwan di laboratorium setempat. Kalau saling pukul dan emosi itu wajar karena saling pukul bisa babak belur. Lagian ketika saling nyebut nama orang tua, toh gak akan terjadi apa-apa pada mereka. kecuali kalau orang tua kita terjun dari jurang tanpa pengaman baru boleh khawatir.

Ya masa kecil memang penuh misteri, waktu kecil kalau tengkar dan nama orang tua saya disebut lalu saya gak terima. Saya lapor sama bapak saya, eh malah gak diapa-apain, cuma didiemin aja :(. Ya bener juga sih, bapak saya gak terjadi apa-apa kok. Tapi emosi itu datang dari mana ya? Kalau pas nama bapak saya disebut terus bapak saya rambutnya rontok, wajar kalau emosi. Takutnya gara-gara sering dikatain bapak saya lama-kelamaan jadi botak. Untungnya sampai sekarang nggak, Cuma uban aja sih :D.

Sekarang setelah berpuluh-puluh tahun, ketika orang ngata-ngatain bapak saya, Alhamdulillah sudah gak marah lagi. Seiiring bertambahnya umur masak tetep marah orang tuanya dikata-katain? Biar jadi giliran adik-adik saya yang masih kecil, kalau mau bikin marah temennya bukan dengan ngambil sandalnya. Tapi sebut nama bapaknya pasti dia akan marah. Kalau mau tambah marah lagi, sekalian timpuk bapaknya pake sandal :D. Takutnya kalau kebiasaan ini kebawa sampai dewasa, terus jadi petinju, gak jadi tonjok-tonjokan. Tinggal saling sebut nama orang tua. Yang nangis duluan dia yang kalah :3.

Oh iya saran saya, kalau mau main ngata-ngatain nama orang tua, pastikan mereka masih hidup. Kalau temen kita gak punya bapak ibu kasihan kan kalau dikata-katain :).

Jurus terampuh : Nangis

huhuhuhu
huhuhuhu

Waktu kecil saat berkelahi dan kelelahan,maka jurus pamungkas adalah menangis. Kalau bisa gulung-gulung dan mendramatisir keadaan, kayak akting artis sinetron papan penggilesan dan ini akan membuat tambah capek sih. Dijamin lawan akan bingung bagaimana cara mendiamkan biar gak nangis lagi. Biasanya yang dilakukan ya bilang “cup cup cup, jangan nangis lagi yaa”. Tapi kalau cara ini tidak ampuh ya jalan terakhir biasanya nangis juga. Lantas siapa yang diemin mereka berdua? Tentu saja yang nonton, soalnya kalau sudah diem, perkelahian bisa dilanjut lagi, sampai nangis lagi. Begitu seterusnya :D.

Pada saat menangis biasanya sambil berteriak-teriak. Omongan sudah ngelantur susah diterjemahkan bahkan oleh google translate sekalipun. Gak hanya air mata yang banjir, ingus pun akan keluar dari sarangnya. Padahal gak lagi flu, mungkin air mata numpang lewat di jalur hidung. Jadi keluar air asin yang agak lengket dan berlendir :D. Biasanya anak kecil yang nangis ini susah ketebak. Kalau digodain malah tambah kenceng nangisnya, kalau dibiarin ya kasihan ingusnya kemana-mana. Mau ditenangin malah tambah guling-guling,kasur-kasur,bantal-bantal dan sprei-sprei. Yah namanya juga bocah

Menangis memang bisa menjadi jurus yang ampuh. Gak hanya buat anak kecil orang dewasa juga bisa pakai jurus ini. Biasanya para cewek nih, kalau pas tengkar emosi sampai meledak-ledak,cewek ngelurain air mata dari matanya(masak dari saku celana?) atau bahkan sambil meler dengan ingus yang lengket seperti lem besi. seketika sang cowok akan bingung, antara langsung minta maaf atau jijik ngeliat ingusnya kemana-mana. Bukan karena dia bersalah tapi karena ingin si cewek diam,dan pertengkaran berakhir(ihirr). Dan tentu saja kalau ini terjadi pada saya, maka yang akan saya lakukan menenangkan biar gak nangis lagi. Tapi kalau harus ngelap ingusnya atau tidak, akan saya pikir-pikir lagi deh, Huek.

Imajinasi yang liar

2490026_20130328121603

Kata koes ploes, tongkat dan batu bisa jadi tanaman. Coba bandingkan dengan seorang bocah umur 3-10 tahun. Benda tersebut bisa jadi pedang,tembak,geranat dan alat tempur lainnya. Saya rindu akan imajinasi saya waktu kecil. Gak ada batasan dalam membuatnya. Hanya terlintas di pikiran begitu saja, tapi seru kok. Dibandingkan orang dewasa yang sibuk dan pemikiran terbatas imajinasi liar akan sulit terlintas. Pikiran seakan tidak mengijinkan hal-hal yang aneh, semua harus logis dan masuk akal(sama aja yak). Padahal benda-benda keren yang ada pada saat ini karena hasil imajinasi yang liar, yang semula tidak masuk akal kata kebanyakan orang.

Ya dunia anak dunia yang penuh imajinasi. Gak ada batasan dan seakan masuk ke dimensi yang berbeda ketika imajinasi itu menjadi nyata. Biasanya bahan imajinasi mereka berdasarkan apa yang mereka lihat. Dulu ketika saya melihat panji manusia millenium saya berhayal menjadi sosok super hero itu. Tanpa kostum hanya dengan imajinasi dan kain sarung sebagai sayap, maka voilla saya adalah panji manusia millenium yang siap menghajar musuh dengan pistol dari ranting kayu walaupun panji gak pake pistol. Ya begitulah imajinasi saya :D.

Orang dewasa butuh imajinasi seperti seorang bocah. Seperti kata Einsten dengan logika kamu akan berangkat dari A menuju B. Tapi dengan imajinasi, kamu akan berangkat dari A menuju kemana saja. Ya seperti masuk ke pintu kemana saja :D. Mungkin ketika menceritakan imajinasi dan dicemooh karena tidak masuk Akal, jangan hiraukan. Itu karena pikiran mereka yang terbatas pada logika manusia sehingga tidak bisa menerima. Jika ingin imajinasi itu menjadi nyata jangan hanya berharap pada manusia, serahkan pada Tuhan sang pemberi imajinasi :).

hasil imajinasi yang terlalu liar
hasil imajinasi yang terlalu liar

Ya begitulah banyak hal seru yang dapat dikenang dan dijadikan pelajaran. Bahwa seharusnya kita perlu belajar dari seorang bocah sekalipun. Beruntunglah bagi kalian yang masa kecilnya terselamatkan :D.

sumber gambar : google :p

Advertisements

11 thoughts on “Keseruan Semasa Kecil

  1. Hahaha. Kalo imajinasi liar gue sampe sekarang. \:D/
    Iya, dulu pas kecil gue juga hobi banget ngatain orangtua temen. (padahal ngga ngatain, cuman nyebut nama doang), lucu aja kalo diinget-inget.

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s