[fiksi] Genggaman Hati

Hembusan sejuk angin sore dan cerahnya langit yang panasnya cukup hangat di sebuah taman sungguh sayang untuk dilewatkan. Pohon,rerumputan, dan bangku taman nampak basah. Ternyata siang tadi telah turun hujan dan menyisakan air yang membasahi tempat yang dilaluinya. Orang berjalan-jalan menikmati senja yang masih lama berakhir. Ornamen-ornamen penghias cukup melengkapi indahnya taman itu. Lampu taman berbentuk bola, berjejer rapi di pinggir taman dengan bangku dengan model seperti bangku SD jaman dulu. Beberapa bangku nampak diisi oleh beberapa orang yang berbincang-bincang satu sama lain. Untung hujan tidak terlalu deras sehingga tanah tidak becek dan membentuk genangan di sekitar taman yang nampak seperti trotoar yang memanjang.

Namun kenikmatan sore itu rupanya tidak bisa meredam amarah seorang Yudis yang sedang meluapkan isi kepala dan hatinya kepada seorang gadis bernama Clara yang ada di hadapannya. Sepertinya mereka berdua adalah sepasang kekasih. Teriakkan dari pria itu tentu membuat sekeliling melihat padanya. Namun sepertinya pria tersebut tidak peduli dan suaranya semakin meninggi.

“lalu untuk hubungan yang sudah kita jalani kalau kamu masih ingat terus dengan heri itu,Ra?” sambil menggebrak pahanya, Yudis mengacungkan telunjuknya ke arah Clara.

“Kamu gak akan ngerti rasanya kehilangan Yud, memang aku gak tahu Heri ninggalin aku kemana. Tapi aku tetap gak bisa ngelupain dia gitu aja” Clara menjawabnya dengan suara sedikit terisak. Matanya sudah berkaca namun dia masih sanggup menahannya.

“ya ya ya, memang aku cuma laki-laki simpananmu. Ingat laki-laki gak hanya berpikir dengan logikanya saja,ada perasaan yang ku miliki juga, Ra. Dan kamu tahu bagaimana perasaanku kamu permainkan?” nada suara Yudis agak menenang,air mukanya berubah kalem. Kemudian dia melanjutkan “Aku sayang kamu,Clara”.

Yudis menggengam tangan Clara, tapi nampaknya respon dari Clara ada penolakan dari dalam dirinya.

Clara menepis tangan Yudis dan melepas genggamannya “Yud, maaf…. memang kamu selalu ada, lebih perhatian dibandingkan dengan heri yang gak selalu ada saat aku butuh dan lebih sering aku tersakiti olehnya.” Air mata clara tak terbendung lagi dan jatuh mengalir ke pipinya, dia melanjutkan “Tapi kamu tahu kan Yud, kami sudah terikat dengan sebuah ikatan pernikahan? Aku harus tetap mencarinya, Aku gak bisa kalau harus langsung melupakannya Yud ”

Badan Yudis gemetar, perasaannya bercampur aduk. Namun dia bisa menahan dirinya untuk tidak meluapkan emosinya secara berlebihan lagi. Tangan kanan Yudis memegang bahu Clara berusaha untuk menenangkannya.

“Ya sudah, kalau itu keinginanmu. Tapi aku akan selalu ada kalau kamu butuh aku,Ra” dengan lembut tangan kiri yudis menyeka air mata Clara.

“Makasih ya,Yud” sambil memegang tangan Yudis dan mengalihkan dari pipinya, “Lebih baik kita akhiri saja hubungan kita sampai disini”

Clara berdiri dari kursinya dan akan beranjak pergi dari hadapan Yudis.

Yudis memegang tangan Clara, tak ingin dia beranjak pergi “Tapi Ra, tunggu… kamu mau kemana? Jangan seenaknya gitu dong!!!” nada suara Yudis agak menaik.

Mata Clara memerah kembali, air matanya keluar dari dua matanya “lepaskan Yudis . Sepertinya tidak ada lagi yang harus harus kita bahas. Biarkan aku pergi aku mohon, biarkan aku mencari Heri”

Clara berlalu dari hadapan Yudis yang masih tertunduk lesu di bangku taman. Matahari menuruni tangga cakrawala, tentara malam nampaknya sudah mengecat langit menjadi kelabu. Kelabu seperti hati Yudis sore itu.

*******

Lights will guide you home

And ignite your bones

And I will try to fix you – Coldplay,FIx You

“Stop Yud, aku mohon” dengan parau Clara memohon kepada Yudis.

“Lah kenapa? Bukankah ini lagu kesukaanmu? Aku mainkan lagu ini untuk menghiburmu kok” Yudis menjawab dengan senyum sinis.

Setengah berteriak “Yud,aku sudah tidak tahan lagi, aku mohon lepaskan aku!!” Clara meronta, suaranya parau namun tetap terdengar jelas oleh Yudis.

Yudis mendekati Clara yang terbaring di ranjang tua “bukankah sudah lama kamu ingin bertemu dengan Heri lagi kan Clara sayang?” sambil membelai rambut clara, Yudis melanjutkan“ Sekarang kamu bisa bersamanya lagi, tangan kalian saling bergenggaman lagi kan? Maaf kalau jahitannya kurang rapi. Tapi kalian gak akan terpisah lagi ” Yudis memastikan tangan Heri dan Clara terjahit kuat.

Kemudian Yudis beranjak menuju ujung ranjang, tampak kaki Clara terikat rantai dan saling bergandeng dengan kaki Heri. Yudis juga mengecek kalau kaki mereka sudah terikat dan tak akan terlepas.

“Yudis maafkan aku…” Clara terisak, tanda tidak sanggup menahan apa yang terjadi padanya. “tapi ini sakit Yud, aku mohon…” Clara tidak bisa membendung air matanya.

Yudis ke posisi Heri “Dulu kamu meninggalkan aku demi bajingan ini!!”Yudis menendang badan Heri yang sudah terbujur kaku. “ Tampaknya setelah aku membunuh Heri dan membuatnya terkesan hilang, kamu akan kembali padaku, tapi nyatanya sia-sia!! Kamu lebih memilih dia daripada aku” Yudis membentak Clara tepat di mukanya. Kepalanya berada diantara Wajah Heri dan Clara.

Yudis beranjak dari Clara yang semakin takut melihat rona wajah Yudis. Aroma tak sedap dari formalin yang mengawetkan tubuh heri,bau busuk dan minyak, serta perabotan tua yang berantakan melengkapi ruangan itu. Nampak Yudis mondar-mandir mencari sesuatu di dekat ranjang tempat Clara dan Heri berbaring.

Nampaknya Yudis sudah selesai dengan apa yang dipersiapkannya. Dia mendekati wajah Clara dan mencium bibirnya.

“Selama jadi laki-laki simpananmu, belum pernah kita berciuman. Mungkin ini ciuman pertama dan terakhir kita. Karena kamu lebih memilih Heri daripada aku”

Yudis menyalakan korek yang diambil dari sakunya dan membuangnya ke lantai. Bangunan tua terbuat dari kayu itu langsung mengobarkan nyala api. Rupanya sekeliling ruangan sudah tersiram minyak tanah. Sontak saja api lancar menjalar ke seluruh isi ruangan dan membakar ranjang tempat Clara dan Heri berbaring.

“Yudiss!! Kamu gilaa!!! Lepaskan akuu Yud, Bangsaaat kamuu, Yudis!!!” Clara meronta kepanasan dan melanjutkan umpatannya “lepaskan aku bajingaan!!”

Clara berusaha bangung dari ranjang, namun apa daya tubuhnya terikat kuat,kakinya terikat rantai dan tangannya terjahit dengan tangan heri yang sudah kaku sedangkan tangan lainnya terikat dengan besi di sisi ranjang.

Di dekat pintu kamar tersenyum walau api berada di depannya, wajah dengan senyum sinisnya masih bisa terlihat oleh Clara.

“Aku sayang kamu,Clara. Sekarang aku penuhi keinginan kamu untuk bersama Heri sebagai bentuk sayangku.” Air mata jatuh dari mata Yudis yang masih tersenyum dengan ulahnya. “sekarang kalian bersama dan tak akan terpisah. Kalian akan menyatu dalam keabadian”

Kobaran api semakin besar, Clara tetap saja berteriak minta tolong walau itu akan sia-sia. Sementara Yudis sudah berlalu dari rumah itu dan memandang dari kejauhan. Namun panas api masih bisa dirasakan olehnya. Asap tebal membumbung tinggi, rumah tersebut seperti lentera besar yang menyala dalam kegelapan. Yudis memandang dengan tatapan kosong, bayangan api nampak dari kedua bola matanya yang basah.

“Semoga kau bahagia bersamanya Clara,hanya ini yang bisa ku lakukan”

Advertisements

22 thoughts on “[fiksi] Genggaman Hati

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s