[fiksi] Di Sebuah Cafe Baru

Ku seruput minuman yang hampir membuat gelasku kosong. Rasanya memang hambar karena rasa manisnya kalah dengan es yang mencair. Namun otakku tetap tertipu karena aroma cokelat di gelasku masih bisa ku cium,sehingga lidahku seperti merasakan manisnya minuman yang telah ku pesan. Sejenak ku lihat sekelilingku dan ku lihat jam dinding sebelah kananku sudah menunjukkan pukul 22:15. Suasana sudah mulai sepi, ternyata tinggal aku sendiri di ruangan ini. Segera ku tutup laptopku tanpa mematikannya terlebih dahulu dan melepas pengisi daya dari sumber energinya.

Tak seperti sekitar satu jam yang lalu, cafe ini terisi oleh pengunjung yang datang dengan tujuan masing-masing. Tepat di depan mejaku, dua kursi tadi diisi oleh sepasang kekasih berusia remaja yang memilih cafe ini untuk tempat mereka berkencan. kursi tengah ditata sedemikian rupa karena baru saja dipilih oleh beberapa kelompok untuk berdiskusi masalah kegiatan kampusnya. Dan beberapa kursi nampak berantakan dengan meja yang berisi beberapa piring dengan lumuran saos, tentu saja kentang goreng sudah habis dilahap mereka.

Sedikit ku renggangkan bahuku karena terlalu lama duduku tanpa merubah posisiku, aah klien yang memberiku tugas memang banyak maunya. jadi sengaja ku pilih cafe ini untuk mencari ketenangan dalam mengerjakan laporanku. Dibanding cafe yang biasa ku kunjungi, memang tempat ini selalu ramai, entah kenapa aku dapat tenang mengerjakan pekerjaanku. Ini keempat kali aku mendatangi tempat ini, nampaknya aku baik-baik saja, malah sekarang aku sudah siap mempresentasikan hasil kerjaku kepada beberapa klienku beberapa hari lagi.

“Mas, permisi gelasnya saya beresin dulu ya” seorang pelayan membuyarkan ingatanku tentang kejadian beberapa jam yang lalu.

“oh iya Mbak” ku jawab dengan datar. Kemudian kulanjutkan bertanya, “Dapat jadwal malam terus ya mbak?”

“Hehee…. iya mas,soalnya bisanya cuma malam sih. Kalau pagi masih kuliah” sambil menumpuk piring dan gelas kosong ke baki yang dia bawa.

Ku lirik tanda pengenal di dadanya “Nadia S.”. Usianya mungkin tiga tahun di bawahku,wajahnya putih,rambut panjang diikat cepol. Dandanannya cocok dengan seragam merah yang dia kenakan. Lalu ku tebak apa kepanjangan dari huruf “S” itu, karena aku tidak mungkim menanyakan langsung kepadanya. Mungkin Santi,susi,atau similikiti. loh itu kan nama istrinya tukul. Aaahh pikiranku sepertinya sudah kacau akibat kerjaan yang menumpuk,sepertinya otakku harus istirahat setelah semuanya selesai.

Gadis itu –hm kupanggil saja dia Nadia–   sudah pergi menuju pintu belakang yang ada di sebelah pojok kananku ketika aku memikirkan huruf “S” yang ada di namanya. Sepertinya dia menuju dapur untuk membereskan sisa gelas dan piring yang sudah dia kumpulkan. Segera ku beranjak dari kursiku menuju kasir untuk membayar minumanku dan kembali ke rumah. Badanku sudah minta haknya untuk diistirahatkan. Siapa tahu dengan badan yang fresh presentasiku lancar sehingga klienku tidak rewel lagi dan segera membayarku.

***

Dua minggu sudah berlalu, aku pulang kampung untuk menengok orang tuaku. tepat setelah penyerahan pekerjaanku selesai. untungnya klien rewel itu berhasil aku taklukkan. Dia puas dengan pekerjaanku dan memberi bonus dari bayaran yang telah disepakati. Sekarang aku harus kembali ke tempat kerjaku dan menghadapi klien berikutnya. Hmm.. sepertinya aku mulai sudah rindu dengan minuman cokelat yang disajikan di cafe itu. Sudah berapa kali kesana tapi aku tetap tidak tahu namanya. Ah sudahlah, nama saja gak penting-penting amat. Yang penting sekarang bisa menikmati sajian disana dan mendapatkan inspirasi baru. Ku ambil kunci motor di dekat jendela  sambil memasang helm di kepalaku. Segera ku nyalakan dan saatnya berangkat.

***

Untung jaraknya gak terlalu jauh,cukup 10 menit berkendara sekarang aku sudah di lokasi. Tapi ada yang berbeda, tepat dihadapanku sebuah gedung kosong, usang. Dindingnya berwarna kehitaman bercampur denga warna hijau daun ciri khas cafe itu. Aku meyakinkan diriku kalau aku tidak salah tempat. Iya benar… Dua minggu lalu di tempat yang sama aku kesini. Tapi semuanya tampak berbeda. Ku toleh sekelilingku dan diseberang jalan ada rumah makan dan sepertinya pemiliknya sedang membaca koran. Segera aku menuju bapak itu untuk mencari tahu.

“Pak numpang tanya pak, cafe yang diseberang jalan itu kenapa ya pak?”

Bapak itu menutup korannya dan melihat ke arahku, “oh anu dek, cafe itu sudah tutup. Gara-gara kebakaran 2 tahun yang lalu”

Sontak aku kaget, hah dua tahun yang lalu!? Aku bergumam dalam hati “Jangan bercanda pak”. Tapi aku masih bisa menyembunyikan keterkejutanku.

“Astaghfirullaaah” ku ucapkan dengan tenang. Ya hanya itu yang bisa kuucapkan karena kaget sekaligus bingung.

“iya dek, eman dek. Padahal dulu cafe itu rame dek. Untungnya pas kebakaran apinya bisa segera dipadamkan, jadi ya gak nyerempet ke gedung sebelah. Walaupun masih ada korban satu orang”

“emang siapa yang tewas pak?” aku bertanya penasaran.

“Pelayan cafe itu dek katanya sih kejebak di dapur dan gak bisa keluar menyelamatkan diri. Kalau gak salah namanya mbak Nadia dek. Kasihan dek. padahal masih muda orangnya juga ramah, dia kuliah sambil kerja di situ buat biaya hidupnya.

“hmm iya wes… pak makasih ya pak” sambil terbata-bata aku menjawabnya. Segera berlalu dari tempat itu tanpa menunggu jawaban dari beliau.

Apa yang aku kunjungi dua minggu yang lalu?

Dan Nadia? Bukankah dia…

Advertisements

16 thoughts on “[fiksi] Di Sebuah Cafe Baru

  1. mas Siro kayaknya suka nulis cerpen yang tragis misteri gitu yah. tp yg ini menurutku bahasanya kurang bermajas, hwahahaha. kayaknya lebih bagus kalo bahasanya lebih dibuat konotasi gitu deh, biar ceritanya lebih hidup. nggak tau sih, tp kalo aku baca cerpen aku lebih suka bahasa majas. tengkyuuu.good Job

Makasih konentar kalian ya, semoga kalian ikhlas nulis komennya. hohoho :3

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s